PARIMO, theopini.id – Ketua Dewan Pengurus Cabang Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (DPC APRI) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, Isram Said Lolo, menegaskan pentingnya para penghulu menjaga marwah institusi Kementerian Agama (Kemenag), terutama di tengah dinamika pelayanan publik yang semakin rentan terhadap kritik.
“Kita harus waspada dan berhati-hati dalam mengambil keputusan serta kebijakan yang berdampak besar, baik secara pribadi maupun terhadap nama baik lembaga,” ujar Isram dalam sambutannya saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenghuluan yang digelar di Aula Kantor Kemenag Parimo, Jum’at, 26 Juli 2025.
Baca Juga: Kemenag Siap Bersinergi dengan KPU Sukseskan Pemilu 2024
Ia menekankan, Kantor Urusan Agama (KUA) merupakan wajah utama dari institusi Kementerian Agama.
Olehnya, kepala KUA dan para penghulu dituntut menjadi teladan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Isram juga mengingatkan seluruh penghulu di Kabupaten Parimo untuk terus menjaga mutu pelayanan dan kehormatan institusi, khususnya dalam menghadapi dinamika kritik publik yang kian marak di era media sosial.
Terkait pelaksanaan Bimtek, ia menyampaikan, kegiatan ini juga menjadi wadah konsolidasi serta peningkatan pemahaman para penghulu, khususnya terkait proses kenaikan pangkat dan jenjang fungsional.
“Proses kenaikan pangkat dan jenjang fungsional bagi para penghulu masih menemui banyak kendala, terutama dalam memahami regulasi dan pengoperasian berbagai aplikasi pendukung,” jelasnya.
Melalui Bimtek ini, APRI Parimo berupaya memfasilitasi para penghulu agar mampu memahami dan mempersiapkan diri secara lebih baik dan mandiri dalam menghadapi proses tersebut.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber berkompeten, yakni Bambang dari APRI Sulawesi Tengah dan Awi dari Bidang Kepegawaian Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah.
Keduanya memberikan panduan strategis dan praktis dalam penyusunan serta pemenuhan berkas kenaikan pangkat.
Baca Juga: Tingkatkan Kompetensi SDM, Kemenag Akan Bentuk LSP
Isram berharap setelah pelatihan, para penghulu memiliki persepsi yang sama mengenai kelengkapan berkas dan mampu menginput data dukung Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) secara mandiri.
“Dengan demikian, tim SKP bisa lebih fokus pada penyelesaian kendala teknis, bukan lagi disibukkan dengan input data satu per satu,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar