Bunda PAUD Parimo Tekankan Peran Keluarga Tangani Anak Tidak Sekolah

PALU, theopini.id – Bunda PAUD Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, Hj Hestiwati Nanga, menegaskan peran keluarga dan pendekatan empatik menjadi kunci utama dalam menangani persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS).

“Pendidikan adalah fondasi utama masa depan daerah kita. Kita butuh data yang akurat dan empati yang tinggi agar tidak ada lagi anak-anak kita yang tertinggal hanya karena kendala akses atau ekonomi,” ujar Hestiwati saat menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan ATS tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Palu, Kamis, 16 April 2026.

Ia menekankan, penanganan ATS tidak bisa hanya dibebankan pada satu instansi, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat.

BACA JUGA:  Etos ID Palu Tekankan Evaluasi Berbasis Dampak untuk Cetak Pemimpin Muda Resilien

Menurutnya, keberhasilan program penanganan ATS sangat ditentukan oleh peran lingkungan terdekat anak, khususnya keluarga, dalam memberikan dukungan dan motivasi untuk tetap bersekolah.

“Sinergi antara pendataan terpadu dan pendekatan persuasif kepada keluarga menjadi kunci utama agar langkah yang kita ambil tepat sasaran dan berkelanjutan,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Daerah (Pemda) Parimo menunjukkan keseriusannya dengan menghadirkan berbagai unsur perangkat daerah, mulai dari Bappelitbangda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, hingga Dinas Sosial.

Rapat koordinasi yang berlangsung selama tiga hari itu, menjadi forum strategis bagi pemerintah kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah, dalam merumuskan langkah konkret guna memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang layak.

BACA JUGA:  50 Siswa SMA Negeri 9 Sigi Ikuti Workshop Literasi Digital

Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan pakar pendidikan yang menyoroti pentingnya integrasi data antarorganisasi perangkat daerah (OPD) serta penguatan peran keluarga dalam memetakan dan mengatasi akar persoalan ATS.

Melalui sinergi lintas sektor dan pendekatan berbasis keluarga, diharapkan angka ATS di Kabupaten Parimo dapat ditekan, sehingga tidak ada anak yang tertinggal dalam mengakses pendidikan.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar