PALU, theopini.id – Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, meminta seluruh perangkat daerah, kader kesehatan, dan pemangku kepentingan terkait, untuk lebih aktif turun ke lapangan dalam upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting.
“Kita perlu melihat langsung kondisi anak-anak yang menjadi perhatian kita. Dengan turun ke lapangan, kita bisa mengetahui persoalan yang sebenarnya dan menentukan langkah penanganan yang tepat,” ujar Imelda saat memimpin rapat kerja percepatan penurunan stunting di Ruang Rapat Bappeda Kota Palu, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menegaskan, keberhasilan program penurunan stunting tidak cukup hanya mengandalkan perencanaan dan pelaporan administratif.
Menurutnya, identifikasi penyebab stunting harus dilakukan secara menyeluruh melalui pemantauan langsung terhadap kondisi keluarga dan anak-anak yang menjadi sasaran program.
Karena itu, ia mendorong perangkat daerah dan kader kesehatan untuk meningkatkan kunjungan ke masyarakat maupun sekolah, guna memastikan intervensi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Selain itu, Imelda juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak. Menurutnya, edukasi mengenai pola asuh dan pola makan sehat perlu terus diperkuat agar orang tua memiliki pemahaman yang baik terkait kebutuhan gizi anak.
Ia menilai pemenuhan nutrisi tidak hanya bergantung pada program bantuan makanan tambahan, tetapi juga harus didukung oleh kebiasaan makan sehat yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam rapat tersebut, Imelda turut meminta seluruh pihak meningkatkan kualitas pendataan dan pelaporan sebagai dasar penyusunan kebijakan.
Ia menginginkan perkembangan penanganan stunting di setiap wilayah dapat dipantau secara berkala, melalui laporan mingguan yang akurat dan konsisten.
“Data yang baik akan membantu kita melihat perkembangan secara nyata dan menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan. Karena itu, pencatatan dan pelaporan harus dilakukan dengan benar dan konsisten,” tegasnya.
Berdasarkan laporan yang dipaparkan dalam rapat, upaya percepatan penurunan stunting di Kota Palu menunjukkan perkembangan positif.
Kecamatan Palu Utara tercatat memiliki 24 kasus baduta stunting dan Kecamatan Palu Barat sebanyak 27 kasus, menjadikannya wilayah dengan angka kasus terendah.
Meski demikian, perhatian khusus masih diberikan kepada sejumlah wilayah yang mencatat kasus relatif tinggi. Kecamatan Mantikulore tercatat memiliki 132 kasus baduta stunting, sementara Kecamatan Tatanga sebanyak 85 kasus.
Menanggapi hal tersebut, Ketua TP PKK Kota Palu, Diah Puspita, menekankan pentingnya keseragaman data antara laporan administrasi dan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, perbedaan data dapat menghambat efektivitas program penanganan stunting.
Ia juga mengajak seluruh perangkat daerah, kader kesehatan, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor agar setiap intervensi yang dilakukan dapat menjangkau sasaran secara tepat dan berkelanjutan.
Rapat kerja tersebut, menjadi forum evaluasi sekaligus penguatan komitmen bersama dalam mempercepat penurunan angka stunting di Kota Palu melalui kolaborasi lintas sektor dan pengawasan yang lebih intensif di lapangan.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar