PARIMO, theopini.id — Banjir merendam sejumlah wilayah di Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah. BPBD menyebut, persoalan utama berada pada kapasitas gorong-gorong dan jembatan di Jalan Trans Sulawesi yang tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Parimo, Rivai, mengatakan tiga desa menjadi perhatian, yakni Sandana, Labuan Donggala dan Ogodopi.
“Kalau di Kasimbar itu ada tiga desa, yaitu Sandana, Labuan Donggala, dan Ogodopi,” kata Rivai dihubungi di Parigi, Kamis, 24 September 2026.
Menurutnya, sungai di Sandana dan Labuan Donggala telah dinormalisasi. Penanganan dilakukan sekitar 14 hari di Sandana dan 13 hari di Labuan Donggala.
“Sebenarnya sungainya sudah lebar dan dalam karena sudah dinormalisasi. Yang bermasalah sebenarnya di jalan Trans, terutama pada mulut gorong-gorong atau jembatan yang mulutnya kecil,” ujarnya.
Saat hujan deras, kata dia, gorong-gorong tidak mampu menampung debit air, sehingga meluap ke sisi kiri dan kanan jembatan.
“Begitu hujan deras, dia tidak bisa menampung airnya. Dia mengalir ke kiri dan kanan jembatan. Itu yang menyebabkan banjir,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Rivai, membuat banjir cepat surut setelah hujan berhenti, karena aliran sungai sudah relatif lancar.
Di Labuan Donggala, jembatan memiliki dua lubang yang disebut telah banyak tertutup material dan tumpukan kayu, sehingga aliran air tidak maksimal.
“Labuan Donggala itu, dua lubang. Di dalamnya sudah banyak tertutup material, ditambah tumpukan kayu-kayu yang terbawa banjir,” katanya.
Sementara di Sandana, BPBD Parimo menemukan sejumlah drainase berukuran kecil dan beberapa titik tersumbat di sekitar permukiman warga.
“Sandana pun begitu. Drainase kami lihat juga kecil-kecil. Ada beberapa sumbatan drainase yang tidak mengalir di depan rumah-rumah warga,” ujarnya.
Rivai mengatakan kondisi hulu juga masih diteliti. Secara kasat mata, terdapat sejumlah kawasan yang terlihat gundul dan diduga berkaitan dengan pembukaan kebun masyarakat.
“Masih sementara kami selidiki. Secara kasat mata memang di atas itu sudah banyak yang gundul. Mungkin ada pembukaan untuk kebun masyarakat,” katanya.
Ia juga memastikan pihaknya tidak menemukan aktivitas pertambangan di Labuan Donggala.
“Kalau tambang, tidak ada. Memang ada perkebunan masyarakat dan sebagainya. Tidak ada tambang di Labuan Donggala itu,” ujarnya.
Untuk Ogodopi, banjir yang terjadi Rabu, 23 September 2026, disebut baru terjadi kali ini dan berdampak pada jembatan. BPBD Parimo bersama masyarakat melakukan penanganan menggunakan geobag dan bronjong.
“Di Ogodopi memang baru kali ini. Air menghantam bagian jembatan. Kami sudah perbaiki dengan bantuan geobag dan bronjong,” kata Rivai.
Sekitar lima hingga enam rumah warga dilaporkan terdampak. Satu sekolah dasar juga sempat terendam, namun kini telah kembali normal.
Rivai mengatakan normalisasi sungai di Ogodopi diperlukan, tetapi pelaksanaannya masih dikoordinasikan, karena alat berat BPBD Parimo masih digunakan untuk pekerjaan di Laemanta Induk.
Selain itu, BPBD Parimo masih melakukan normalisasi dua sungai di Laemanta Induk dan sebelumnya memasang sekitar 300 lembar geobag di Laemanta Utara.
Ia menambahkan, BPBD Parimo belum membuka posko khusus maupun menetapkan status penanganan tertentu, akibat banjir di tiga desa tersebut.
“Tidak ada. Kami masih ada posko sementara di sekitar Laemanta Induk karena pekerjaan di sana belum selesai,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Novita Ramadhan














