PARIMO, theopini.id – Pemanfaatan lahan hasil program pencetakan sawah di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, belum berjalan optimal. Dari 283 hektare lahan yang telah dilaksanakan, baru sebagian yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Keterbatasan pengairan dan kondisi cuaca menjadi kendala utama.
Bupati Parimo, H. Erwin Burase, mengatakan persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius. Pemerintah daerah harus segera mengidentifikasi kendala agar lahan yang telah dicetak dapat dimanfaatkan dan memberikan hasil bagi petani.
“Ini merupakan persoalan serius yang harus segera dicarikan solusinya. Saya meminta pemerintah desa menyampaikan secara terperinci permasalahan yang dihadapi petani, termasuk ketersediaan air, kondisi lahan, hingga faktor musim,” kata Erwin saat rapat kerja di Desa Siaga, Kecamatan Tinombo Selatan, Rabu, 4 November 2026.
Ia menjelaskan, program pencetakan sawah awalnya mendapat target seluas 1.000 hektare dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Namun, setelah melalui tahapan persiapan dan verifikasi, hanya 404 hektare yang dinilai dapat dilaksanakan. Dari jumlah tersebut, realisasi pelaksanaan mencapai 283 hektare.
Khusus di Kecamatan Tinombo Selatan, dari alokasi 228 hektare, hanya 182 hektare yang dapat dilaksanakan. Sementara lahan yang telah dimanfaatkan baru sekitar 34 hektare.
Adapun di Desa Siaga, dari total 102 hektare lahan, sekitar 65 hektare dapat dilaksanakan. Dari luasan tersebut, baru sembilan hektare yang telah ditanami padi.
Erwin berharap, melalui pertemuan bersama pemerintah desa dan perangkat daerah, berbagai persoalan yang menghambat pemanfaatan lahan dapat diidentifikasi, sekaligus dicarikan jalan keluar.
Ia juga meminta agar kebutuhan infrastruktur pengairan menjadi perhatian dalam penyusunan program pembangunan daerah, termasuk melalui APBD Tahun Anggaran 2027.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Parimo, Dadan Priyatna Jaya, mengatakan pemerintah akan mengoptimalkan kembali lahan cetak sawah yang belum produktif melalui rotasi komoditas, dari padi ke jagung.
Menurut Dadan, sebelumnya terjadi kesalahpahaman komunikasi antara penyuluh dan petani mengenai larangan alih fungsi lahan.
Padahal, penanaman jagung pada lahan cetak sawah merupakan bagian dari rotasi komoditas, bukan perubahan fungsi lahan.
“Yang tidak diperbolehkan itu mengubah lahan cetak sawah menjadi tanaman tahunan seperti kakao dan kelapa, atau digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Kalau menanam jagung, itu merupakan rotasi komoditas,” jelasnya.
Ia menerangkan, sebagian besar lahan cetak sawah yang dikerjakan TNI merupakan sawah tadah hujan. Kondisi tersebut, membuat pemanfaatannya sangat bergantung pada curah hujan.
Terlebih, cuaca ekstrem dan fenomena El Niño menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah. Bahkan, sawah yang memiliki irigasi teknis juga mengalami kekeringan, sehingga lahan tadah hujan semakin sulit ditanami.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah akan mengusulkan pembangunan jaringan irigasi air tanah melalui koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPRP).
Dadan menyebutkan, pengusulan jaringan irigasi air tanah dilakukan melalui aplikasi SIPURI yang dikelola oleh admin Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PU. Usulan tersebut akan didorong agar dapat ditindaklanjuti pada 2027.
Selain itu, sejumlah kebutuhan petani juga menjadi perhatian pemerintah daerah, di antaranya bantuan hand tractor, pembangunan irigasi tersier, serta perbaikan jaringan penyaluran air.
Menurutnya, pembangunan jaringan irigasi air tanah menjadi salah satu kebutuhan utama petani. Selama ini, penggunaan pompa air dengan tenaga diesel, baik untuk air tanah dalam maupun dangkal, membutuhkan biaya bahan bakar yang cukup memberatkan.
Karena itu, penggunaan tenaga listrik maupun tenaga surya (solar cell) dinilai dapat menjadi alternatif, untuk menekan biaya operasional petani sekaligus mengoptimalkan pengairan lahan.
“Kita akan dorong pembangunan jaringan irigasi air tanah pada 2027. Untuk sementara, lahan yang belum bisa ditanami padi akan diarahkan pada rotasi komoditas jagung agar tetap produktif,” pungkasnya Dadan.
Baca berita lainnya di Google News














