PARIMO, theopini.id – Meski status tanggap darurat bencana telah ditetapkan di 12 desa dalam tiga kecamatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah mengakui, penanganan banjir masih terkendala keterbatasan alat berat dan anggaran untuk normalisasi sungai serta perbaikan infrastruktur dasar.
“Anggaran tanggap darurat tidak cukup untuk membiayai normalisasi sungai secara menyeluruh. Sungai Bolano saja butuh perencanaan matang dan kerja sama lintas instansi,” ujar Plt Kepala BPBD Parimo, Rivai, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 19 Juni 2025.
Baca Juga: Wabup Sahid Tinjau Lokasi Banjir di Sausu, Janji Perbaikan Infrastruktur
Banjir yang terjadi sejak Selasa, 17 Juni 2025 telah merendam desa-desa di Kecamatan Bolano, Bolano Lambunu, dan Ongka Malino.
Sebagian besar wilayah terdampak masih tergenang hingga hari ketiga pasca bencana, terutama di empat desa yang belum sepenuhnya surut.
Rivai mengatakan, pemadaman listrik sempat terjadi di Desa Siendeng akibat air yang masuk ke Kantor PLN. Sementara itu, kerusakan infrastruktur seperti deker yang terlalu kecil di jalan utama turut memperparah luapan air.
“Malam pertama bencana, listrik di Siendeng padam karena air sampai ke Kantor PLN. Deker jalan juga jadi penyebab utama banjir cepat meluap,” jelasnya.
Dalam kondisi darurat ini, BPBD berupaya maksimal dengan mendirikan posko induk, dua dapur umum, serta koordinasi logistik bersama Dinas Sosial dan Dinas Ketahanan Pangan.
Dinas Kesehatan turut membuka pos layanan kesehatan di lokasi pengungsian dan memaksimalkan layanan di poskesdes desa terdampak.
“Kami juga sudah respon cepat kekurangan obat di Wanamukti Utara dengan distribusi dari puskesmas ke Polindes,” kata Rivai.
Terkait normalisasi sungai dan perbaikan saluran, Rivai menekankan pentingnya koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) III dan Cikasda Provinsi Sulawsi Tengah. Namun, keterbatasan alat di tingkat provinsi menjadi tantangan tersendiri.
“Kalau status tanggap darurat diberlakukan, BWS III siap bantu. Mereka punya alat berat. Tapi tetap perlu sinergi lintas sektor,” ungkapnya.
Hingga saat ini, sekitar 448 jiwa dari 112 kepala keluarga terdampak di Desa Bolano, termasuk tujuh bayi. Sebagian warga mengungsi di MTS 3 Parigi dan rumah kerabat, sementara warga suku Bali di Sritabaang memilih bertahan meski air masih tinggi.
Baca Juga: Bupati Parimo Serahkan Bantuan Cadangan Pangan untuk Korban Banjir di Sausu
BPBD juga tengah mempertimbangkan pendirian hunian sementara berbahan tenda keluarga di Desa Bolano dan Lembah Bomban, yang juga dilanda longsor.
“Kami berharap semua pihak bisa bersinergi, karena bencana ini tidak bisa ditangani hanya oleh satu instansi,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar