PARIMO, theopini.id – Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah berkomitmen memperkuat kemandirian ekonomi desa sebagai tulang punggung pembangunan daerah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.
Salah satu langkah utamanya, adalah membangun ekosistem distribusi pangan berbasis penguatan lembaga ekonomi lokal.
“Dari 283 wilayah administrasi di Kabupaten Parimo, hanya lima yang berstatus kelurahan. Selebihnya adalah desa. Karena itu, jika ekonomi desa bergerak, maka ekonomi daerah juga akan tumbuh,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Parimo, Zulfinasran A Tiangso dalam konsultasi publik rancangan awal RPJMD di Parigi, Rabu, 23 Juli 2025.
Baca Juga: PEKNAS Sulteng Dorong Ekosistem Ekonomi Rakyat Berbasis Desa
Ia menekankan, pentingnya penguatan lembaga ekonomi di daerah, seperti koperasi, BUMDes, dan lembaga distribusi pangan lainnya.
Ia menyoroti persoalan klasik, panjangnya rantai pasok pangan yang menyebabkan ketimpangan harga di tingkat konsumen dan produsen.
“Setiap tahapan distribusi bisa menambah 5 hingga 10 persen harga. Tanpa manajemen rantai pasok yang efektif, industri pangan akan rentan terhadap fluktuasi harga dan kelangkaan bahan baku,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan utama yang perlu segera ditangani adalah tingginya biaya logistik, kurangnya fasilitas penyimpanan modern, serta minimnya informasi akurat soal permintaan, produksi, dan pergerakan harga di tingkat petani.
“Petani sulit mendapat harga yang adil karena informasi pasar tidak transparan. Di sinilah peran pemerintah daerah sebagai pilar utama harus hadir,” jelasnya.
Zulfinasran menyampaikan, Pemda akan menyiapkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang penguatan lembaga ekonomi daerah dalam ekosistem distribusi pangan.
Salah satu gagasan yang tengah dikembangkan adalah, pembentukan sistem digital terintegrasi untuk memotong rantai distribusi pangan dari petani ke konsumen.
“Nanti kita bentuk skema platform digital, semacam marketplace yang dikelola koperasi atau BUMDes. Kebutuhan pangan dan harganya akan ditampilkan secara terbuka di ruang-ruang publik seperti kantor desa atau pasar,” paparnya.
Model pendekatan ini, lanjutnnya, telah terbukti meningkatkan pendapatan petani secara signifikan. Ia mengutip studi akademik dari UGM dan Universitas Padjadjaran yang menyebutkan bahwa model distribusi langsung dari petani ke konsumen akhir mampu menaikkan pendapatan hingga 61 persen.
“Dengan model pasar lelang, koperasi, dan mitra dagang langsung, petani bisa memperoleh 80 persen dari harga konsumen. Ini bisa jadi strategi nasional jika dilakukan secara sistematis dari pusat hingga daerah,” tambahnya.
Pemda Parimo juga tengah menjalin kerja sama antarwilayah, termasuk dengan Pemkot Tomohon, Sulawesi Utara untuk memperluas jaringan distribusi pangan antardaerah.
Lembaga ekonomi desa, akan didorong berperan sebagai distributor yang menyuplai produk ke UMKM dan industri pangan lokal.
Baca Juga: Gubernur Sulteng: Koperasi Merah Putih Adalah Jalan Bangkitkan Ekonomi Desa
“Kita sedang mengaktifkan kembali fungsi-fungsi daerah, termasuk lewat kerja sama distribusi pangan lintas kabupaten. Tujuannya agar bahan pangan lokal tidak hanya berputar di desa, tapi juga masuk ke dapur industri,” kata Zulfinasran.
Ia menegaskan, visi pembangunan daerah ke depan tetap bertumpu pada Gerakan Membangun Desa (Gerbang Desa), yang menjadi fondasi utama dalam visi “Parigi Moutong Maju, Mandiri, dan Berkelanjutan.”
“Ini bukan sekadar jargon. Gerbang Desa harus diimplementasikan lewat program nyata, termasuk distribusi pangan, penguatan koperasi, dan digitalisasi informasi pasar,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar