PARIMO, theopini.id — Program perhutanan sosial yang dijalankan UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dolago-Tanggunung, Dinas Kehutangan (Dishut) Sulawesi Tengah, mulai menunjukkan hasil positif. Selain menjaga kelestarian hutan, program ini juga mendorong tumbuhnya ekonomi hijau di tingkat masyarakat melalui pembinaan 27 Kelompok Tani Hutan (KTH) di tiga kabupaten.
Kepala KPH Dolago Tanggunung, Mukmin Muharam mengatakan, pembinaan terhadap KTH menjadi langkah strategis dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap hutan, dari sekadar sumber kayu menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Parimo Jadi Sasaran Program REDD+ Senilai Rp1 Miliar
“Harapannya, kelompok ini bisa membantu menjaga dan melestarikan hutan. Kami berikan bantuan bibit seperti durian dan alpukat agar kawasan tetap produktif sekaligus lestari. Terpenting, tercipta kembali ekologi yang baik,” jelas Mukmin di ruang kerjanya, Rabu, 15 Oktober 2025.
Program ini, mencakup wilayah kerja yang luas, mulai dari Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), sebagian Kabupaten Sigi, hingga Donggala.
Dari total 27 kelompok yang dibina, terdapat 11 KTH di Kabupaten Parimo, tiga di Sigi, dan 13 di Donggala. Bahkan, beberapa di antaranya telah berhasil memadukan aspek konservasi dan ekonomi.
Salah satunya, KTH Bukit Hanoman di Desa Ganda Sari, yang menanam kopi di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 40 hektare, dan kini mampu menghasilkan produk olahan kopi bernilai jual tinggi.
“Kelompok Bukit Hanoman kami bantu mulai dari penyediaan bibit hingga alat pengolahan. Kini produk kopinya sudah masuk pasar dan sering diikutsertakan dalam berbagai pameran,” ujarnya.
Selain itu, KTH Wana Kerti di Desa Baraban mengelola 57 hektare lahan dengan tanaman campuran.
Sedangkan KTH Tuladanggi di Torue, memanfaatkan 112 hektare kawasan hutan untuk pengembangan tanaman produktif.
Mukmin menegaskan, pengelolaan kawasan hutan oleh masyarakat tetap berada dalam koridor konservasi.
Baca Juga: DLH Parimo Laporkan Kemunculan Monyet Liar ke BKSDA Sulteng
KTH diharuskan menanam jenis kayu atau tanaman produktif agar fungsi ekologis tetap terjaga, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi anggota kelompok.
“Salah satu tolak ukur keberhasilan KTH adalah ketika ekologinya pulih dan anggotanya juga merasakan nilai ekonomi dari hasil hutan yang mereka kelola,” pungkasnya.







Komentar