PALU, theopini.id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) memperkuat kesiapan penanggulangan bencana, sekaligus pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) menyusul meningkatnya jumlah kejadian bencana sepanjang 2025.
“Sepanjang 2024 tercatat 197 kejadian bencana, sementara hingga November 2025 jumlahnya meningkat menjadi 256 kejadian atau naik sekitar 30 persen. Ini menunjukkan tingkat kerawanan bencana di Sulawesi Tengah masih tinggi,” kata Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi serta Pengamanan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, yang dipusatkan di Lapangan Pogombo, Kota Palu, Senin, 15 Desember 2025.
Baca Juga: 68 Kejadian Bencana di 2022, BNPB : Tingkatkan Resiliensi Indonesia
Ia menjelaskan, kejadian bencana di Sulawesi Tengah masih didominasi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, gelombang pasang, dan abrasi pantai. Jenis bencana tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Menurut Reny, kondisi tersebut tidak terlepas dari letak geografis Sulawesi Tengah yang berada di wilayah rawan bencana, baik geologi maupun hidrometeorologi.
“Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2024, Sulawesi Tengah berada pada peringkat ke-15 dari 38 provinsi dengan kategori risiko bencana tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebanyak 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah masuk dalam kategori risiko tinggi dan sedang. Karena itu, diperlukan kesiapsiagaan yang berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan.
Mengacu pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode Desember 2025 hingga Februari 2026 berpotensi terjadi peningkatan curah hujan yang dipengaruhi perkembangan bibit siklon tropis.
“Karena itu, kesiapan personel, peralatan, serta sistem koordinasi lintas sektor harus benar-benar optimal,” kata Reny.
Ia menegaskan, apel kesiapsiagaan tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan momentum untuk memastikan soliditas pemerintah daerah, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, relawan, serta seluruh elemen masyarakat.
“Filosofi siaga sebelum bencana harus menjadi budaya kerja dan budaya hidup. Kesiapan hari ini adalah jaminan perlindungan bagi masyarakat Sulawesi Tengah,” tegasnya.
Baca Juga: Pemda Diminta Bergerak Serentak Hadapi Bencana Hidrometeorologi
Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, Wagub Reny juga mengajak seluruh pihak untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kerukunan. Ia menekankan pentingnya mengedepankan Program Prioritas 9 Berani, khususnya BERANI Tangguh dengan semangat BERANI Tanggap, BERANI Tindak, dan BERANI Tuntas.
Usai apel kesiapsiagaan, Wagub Reny bersama jajaran meninjau langsung kesiapan alat dan perlengkapan kebencanaan yang akan digunakan untuk penanganan darurat di berbagai wilayah Sulawesi Tengah.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar