PARIMO, theopini.id – Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah menegaskan pentingnya menjaga toleransi dan keharmonisan antarumat beragama melalui momentum ritual pemelastian, dalam rangka menyambut Tahun Baru Saka 1948 di Desa Siendeng, Kecamatan Bolano Lambunu.
“Melalui prosesi ini, kita diajak untuk membersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan dari hal-hal negatif, serta memohon tuntunan dan keseimbangan hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar Wakil Bupati Parimo, H. Abdul Sahid, dalam sambutannya, Selasa, 17 Maret 2026.
Dalam sambutan tersebut, pemerintah daerah juga menyampaikan apresiasi kepada umat Hindu, khususnya di Kecamatan Bolano dan Bolano Lambunu, yang terus menjaga dan melaksanakan tradisi keagamaan dengan penuh khidmat.
Pemelastian disebut sebagai ritual penting dalam rangkaian Hari Raya Nyepi yang sarat makna spiritual, tidak hanya sebagai simbol penyucian diri, tetapi juga sebagai upaya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Selain nilai spiritual, kegiatan ini juga dimaknai sebagai ruang memperkuat persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Parimo.
Pemerintah daerah menilai, keberagaman suku, budaya, dan agama merupakan kekuatan yang harus dijaga melalui sikap saling menghormati dan toleransi yang telah terbangun selama ini.
Dalam kesempatan itu, masyarakat juga diingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya laut dan pantai yang menjadi lokasi pelaksanaan ritual.
“Oleh karena itu, mari kita jaga kebersihan lingkungan, melestarikan alam, dan memanfaatkannya secara bijaksana demi keberlangsungan generasi mendatang,” lanjutnya.
Pemda Parimo berharap, melalui peringatan Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1948, nilai-nilai dharma semakin kuat dalam kehidupan masyarakat serta mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan daerah.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar