PARIMO, theopini.id – Kedekatan kader kesehatan dengan masyarakat menjadi modal penting dalam mengenali kusta sejak dini di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah.
Karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Parimo memperkuat kapasitas kader agar mampu mengenali tanda kusta sekaligus mengedukasi masyarakat.
Plt. Kepala Dinkes Parimo, Darlin mengatakan, kader memiliki peran strategis karena bersentuhan langsung dengan keluarga dan lingkungan masyarakat.
“Melalui pelatihan ini, saya berharap seluruh peserta dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam mendeteksi, mendiagnosis, menangani, serta melakukan pelaporan kasus kusta dan frambusia secara tepat dan terintegrasi,” ujar Darlin.
Penguatan kapasitas kader tersebut, dilakukan melalui On The Job Training (OJT) pelaksanaan Active Case Finding (ACF) dan kemoprofilaksis kusta yang berlangsung 15–16 September 2026. Kegiatan diikuti petugas Puskesmas dan kader kesehatan.
Dalam penemuan kasus di masyarakat, kader dibekali kemampuan mengenali tanda kusta, termasuk bercak pada kulit yang mengalami mati rasa.
Temuan tersebut, selanjutnya dapat dikomunikasikan kepada petugas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut di Puskesmas.
Peran kader tidak berhenti pada mengenali gejala. Mereka juga diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada keluarga dan masyarakat mengenai kusta dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterima.
Menurut Darlin, pendekatan tersebut penting karena kusta tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga masih menghadapi persoalan stigma di tengah masyarakat.
“Edukasi dan pendekatan yang baik kepada masyarakat merupakan bagian penting dalam keberhasilan program kesehatan,” katanya.
Karena berada dekat dengan warga, kader juga diharapkan dapat membantu membangun keberanian masyarakat untuk memeriksakan diri ketika menemukan tanda yang mengarah pada kusta.
Darlin menekankan, penderita kusta dan keluarganya harus memperoleh pelayanan yang manusiawi serta bebas dari perlakuan diskriminatif.
Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, dinilai penting untuk membangun pemahaman masyarakat sekaligus mengurangi stigma.
Sementara itu, OJT juga memberikan pemahaman kepada peserta mengenai kemoprofilaksis bagi kontak yang memenuhi kriteria sebagai bagian dari upaya pencegahan kusta.
Melalui penguatan kapasitas tersebut, Dinkes Parimo berharap kader semakin mampu menjadi penghubung antara masyarakat dan layanan kesehatan.
Sehingga, informasi mengenai kusta dapat lebih cepat diterima warga dan akses terhadap pemeriksaan semakin terbuka.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Israwati














