PARIMO, theopini.id – Pegiat literasi sekaligus pendiri Nemu Buku, Neni Muhidin, mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan membaca buku sebagai fondasi menghadapi derasnya arus informasi digital, termasuk maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks.
“Coba bayangkan kalau itu terus dilakukan sejak 2015 lalu, kita tidak akan terlalu khawatir soal kecanduan gawai di era digital saat ini atau khawatir soal maraknya hoaks,” ujar Neni dalam gelar wicara Festival Literasi Parimo di Gedung Perpustakaan, Jum’at, 30 Oktober 2026.
Ia mengingatkan kembali Gerakan Indonesia Membaca yang dicanangkan di Kabupaten Parimo, saat pelaksanaan Sail Tomini pada 2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Anies Baswedan.
Gerakan tersebut, kemudian diperkuat melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yang salah satu praktiknya mendorong kegiatan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.
Neni menilai, pembiasaan membaca sejak dini dapat membentuk kemampuan berpikir logis dan kritis. Bekal tersebut penting, agar masyarakat tidak mudah menerima informasi begitu saja, terutama yang beredar melalui media sosial.
Di sisi lain, budaya membaca buku secara konsisten belum sepenuhnya terbentuk, sementara masyarakat telah dihadapkan pada perkembangan teknologi dan derasnya informasi digital.
Penguatan budaya baca juga membutuhkan dukungan berbagai pihak. Bunda Literasi Kabupaten Parimo, Hj Hestiwati Nanga, menekankan pentingnya peran Bunda Literasi mulai dari tingkat kabupaten hingga desa sebagai motor penggerak dan teladan di tengah masyarakat.
“Kita memang harus kolaborasi, mengaktifkan kembali pojok-pojok baca. Bukan berarti harus ada bangunannya, di area pelayanan publik seperti Puskesmas, Posyandu, dan rumah sakit perlu disiapkan pojok baca,” ucap Hestiwati.
Ia mendorong penyediaan pojok baca di berbagai fasilitas pelayanan publik untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan, sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca sejak usia dini.
Upaya tersebut, juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor serta dukungan kebijakan penganggaran.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Parimo, Syamsu Nadjamudin, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pemanfaatan gedung perpustakaan sebagai fasilitas pengembangan literasi masyarakat.
Ia berharap dukungan berbagai pihak dapat meningkatkan pemanfaatan fasilitas perpustakaan, sehingga keberadaannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Gagasan tersebut, menjadi bagian dari pembahasan dalam gelar wicara Festival Literasi Parimo yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah dengan tema “Bijak Membaca di Era Digital, Mengubah Informasi Menjadi Solusi”.
Kegiatan itu, turut menghadirkan Ketua DPRD Parimo Alfres Tonggiroh, Tokoh Masyarakat Penggerak Literasi Sulawesi Tengah I Nyoman Sriadi Jaya, serta Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sulawesi Tengah Devi Artini Uga.
Melalui festival tersebut, penguatan budaya membaca diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan, tetapi juga melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, komunitas, media, dan seluruh elemen masyarakat.
Baca berita lainnya di Google News













