PALU, theopini.id – Aliansi Jurnalis Indendepen (AJI) Palu menggelar diskusi publik memperingati 5 Tahun bencana di Kota Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, yang menghadirkan pembicara dari PUPR, SKP HAM dan kesaksian penyintas, Rabu, 27 September 2023.
Diskusi dimaksudkan, untuk diseminasi media atas liputan 5 jurnalis terpilih, yang khusus memotret situasi penyintas dan progres pembangunan hunian tetap sejak 5 tahun berjalan.
Baca Juga: Perkuat Peran Jurnalis, AJI Palu Mulai Pembangunan Sekretariat
Penghuni barak pengungsi di Padang Golf, Sri Tini Haris (54) mengatakan, sudah 5 tahun tinggal di Hunian Sementara (huntara) berukuran 3 x 4 meter, dengan kondisi yang tidak layak ditinggali.
Meskipun maksimal ditempati dua tahun hingga 28 September 2023, Sri Tini dan keluarganya serta warga terdampak bencana (WTB) masih memilih tinggal di Huntara.
“Sudah banyak diantara kami para penyintas yang meninggal, dua di antaranya bunuh diri. Ada yang minum racun, ada yang gantung diri. Kami hanya meminta kejelasan Hunian Tetap (Huntap), apakah memang ada atau tidak. Jika ada tolong di percepat,” ujar Tini, salah seorang penyintas yang menghuni Huntara padang golf Palu, saat menjadi narasumber dalam diskusi publik AJI Palu, Rabu.
Ketua Tim Monitoring Rehabilitasi Rekonstruksi dari organisasi Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) Sulawesi Tengah, Mohamad Syafari Firdaus menjelaskan, total kebutuhan 8.399 unit. Huntap yang terbangun hingga Agustus 2023 sebanyak 4.454 unit.
“Masih terdapat 3.798 unit yang sedang dibangun, dan 147 unit yang sama sekali belum dibangun, kata dia.
Padahal, seharusnya pembangunan huntap selesai dalam 2,5 tahun sejak diterbitkan Peraturan Gubernur SulawesiTengah, Nomor 10/2019 tentang Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, pada 12 April 2019.
Team Leader Oversight Provider Kementerian PUPR, Teguh M Abdu mengatakan, ketersediaan lahan menjadi faktor penghambat pembangunan Huntap.
Pembangunan Huntap bagi 1.600 WTB di Kota Palu, baru dapat dilakukan setelah permasalahan lahan diselesaikan pada akhir 2022, di lokasi kelurahan Talise dan Tondo.
Ia mengatakan, di lahan Huntap Tondo 2 masih ada yang bermasalah. Sekitar 160 unit dalam gugatan warga setempat.
Permasalahan lain, terkait lahan yang disediakan oleh pemerintah daerah berada di lokasi pelosok dan belum memiliki akses jalan masuk untuk membawa material pembangunan Huntap.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Huntap, Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan Sulawesi II, Kementerian PUPR, Zulfahmi mengatakan, upaya untuk percepatan penyelesaian hunian, diharapkan rampung pada akhir 2023.
Baca Juga: AJI Palu Bekali Pegiat Lingkungan Soal Peran Jurnalisme Warga
Sementara, Sekretaris AJI Palu, Kartini Nainggolan mengatakan, diskusi digelar untuk memeringati 5 tahun bencana gempa, tsunami dan liquefaksi, dirangkai dengan diseminasi liputan 5 jurnalis peserta fellowsip AJI Palu.
Diskusi, dipandu oleh Yahya M Ilyas, Anggota Divisi Gender dan Kelompok Marginal AJI Palu. Diskusi berlangsung di Kafe RoA, dihadiri pejabat PUPR, jurnalis dan pegiat CSO serta ormas pemuda.







Komentar