PARIMO, theopini.id – Camat Siniu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, Darwis memastikan tidak ada perubahan nama perusahaan PT Anugerah Tekhnik Industri (ATHI) ke PT Anugerah Tambang Smelter (ATS) sesuai laporan sejumlah masyarakat ke Pemerintah Daerah.
“Kalau ada perubahan nama PT ATHI ke ATS, saya belum tahu. Karena memang belum ada perubahan itu,” tegas Camat Siniu, Darwis, di Parigi, Rabu malam, 6 Maret 2024.
Baca Juga: Warga Siniu Keluhkan Perubahan Nama PT ATHI Menjadi PT ATS
Menurutnya, sejak awal nama perusahaan yang tertera pada Nomor Induk Berusaha (NIB), dokumen Andal, serta Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KPPR) tertulis PT ATHI.
Bahkan berdasarkan laporan, PT ATHI telah mengantongi Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI), untuk mendukung pembangunan kawasan industri di Kecamatan Siniu.
“Kalau pun ada PT ATS itu, setahu saya di Desa Towera, Kecamatan Siniu. Perubahan nomenklatur perusahaan, membutuhkan biaya banyak,” tukasnya.
Sebaliknya, Darwis menduga perubahan nama perusahaan tersebut sengaja digiring oknum tertentu, karena kepentingan.
Sebab, sejumlah masyarakat yang dinilai terus mempermasalahkan aktivitas PT ATHI di Kecamatan Siniu, terus mendesak untuk ditunjukan dokumen Izin Usaha Pertambangan (IUP).
“Mereka mengiring opini masyarakat, ini pertambangan. Padahal bukan, bagimana mau ditunjukan IUP. PT ATHI membangun kawasan industri di sana (Desa Siniu),” ungkapnya.
Selaku pemerintah kecamatan, ia mengaku, menyambut baik kehadiran PT ATHI di Kecamatan Siniu, hanya semata-mata agar wilayah tersebut, terhapus dalam daftar daerah tertinggal.
Selain itu, berharap ekonomi masyarakat lokal meningkat, dengan dibukanya peluang penerimaan tenaga kerja sebanyak 40 ribu orang.
Baca Juga: Satgas Disarankan Dampingi Warga Hadapi Dampak Sosial Pembebasan Lahan Siniu
Namun, Darwis tidak menepis harga lahan yang masih terus berpolemik hingga saat ini. Tetapi, ia menilai, masyarakat lebih diuntangkan dengan penawaran PT ATHI.
“Lahan di Desa Siniu itu, harga Rp30 juta dengan tanaman itu, tidak ada yang mau beli. Beruntung perusahaan ini, masuk. Mereka mau membeli dengan klasifikasi Rp5 ribu hingga Rp12 ribu, di luar dari tanaman di dalamnya,” pungkasnya.







Komentar