PARIMO, theopini.id – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DISPKH) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, gencar memberikan edukasi peternak tentang teknologi Transfer Embrio.
Belum lama ini, wilayah Kecamatan Parigi Selatan menjadi sasaran DISPKH Parimo, setelah sukses mendorong peternak di Kecamatan Mepanga untuk mengadopsi terknologi tersebut.
Baca Juga: DISPKH Parimo Dorong Peternak Adopsi Teknologi TE
“Kegiatan ini, kami laksanakan agar peternak dapat mengadopsi teknologi transfer embrio. Sehingga menghasilkan bibit ternak sapi unggul dan berkualitas,” kata Kepala DISPKH Parimo, Arman Maulana, di Parigi, Jum’at, 31 Mei 2024.
Menurutnya, transfer embrio merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi, setelah Inseminasi Buatan (IB).
Transfer embrio, kata dia, suatu proses yang mulai dari pemilihan sapi donor, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, dan koleksi embrio.
Kemudian, penanganan dan evakuasi embrio, transfer embrio ke resipien sampai pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran.
Ia menjelaskan, teknologi transfer embrio memiliki manfaat ganda. Selain dapat diperoleh keturunan sifat dari kedua tetuanya, juga dapat memperpendek interval generasi.
“Sehingga perbaikan mutu genetik ternak lebih cepat diperoleh,” imbuhnya.
Selain itu, teknologi transfer embrio juga dapat membuat jenis kelamin anak sapi yang diinginkan. Bahkan, dapat melahirkan anakan kembar melalui program twinning.
Keunggulan menggunakan teknologi ini, yakni meningkatkan mutu genetik ternak. Sebab dapat memilih embrio dari sapi donor yang memiliki karakteristik genetik unggul.
“Ini membantu meningkatkan kualitas keturunan, dan menghasilkan sapi yang lebih baik secara genetik,” jelasya.
Teknologi transformasi embrio, juga mempercepat peningkatan populasi, dalam waktu yang lebih singkat. Proses ini, memperpendek interval generasi antara tahapan seleksi, sehingga dapat berkembang lebih cepat.
Keuntungan lainnya, ketepatan dalam penentuan jarak dan kelahiran. Sehingga, memungkinkan peternak merencanakan pemeliharaan dan manajemen lebih efisien.
“Kabar baiknya, mengadopsi teknologi ini berpotensi terhindar dari penyakit hewan menular, karena embrio ditransplantasikan melalui saluran reproduksi, kontak langsung melalui hewan dapat diminimalisir,” bebernya.
Tidak kalah penting, lanjut Arman, terjadi peningkatan penyediaan sumber bibit unggul, dengan menggunakan teknologi transfer embrio.
Baca Juga: Gubernur Sulteng Tinjau Pengembangbiakan Sapi dengan Transfer Embrio
Bahkan, mempengaruhi pendapatan masyarakat, karena peternak dapat menghasilkan sapi lebih baik secara genetik.
“Dengan meningkatnya produksi ternak di Kabupaten Parimo, diharapan dapat menjadi penyangga pangan untuk IKN dan perusahaan di Kabupaten Morowali,” pungkasnya.






