PALU, theopini.id – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada November 2024, inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 1,71 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,82.
Inflasi tertinggi terjadi di Luwuk sebesar 3,26 persen dengan IHK sebesar 108,82 dan terendah terjadi di Kota Palu sebesar 1,15 persen dengan IHK sebesar 105,44.
Baca Juga: Mendagri Beberkan Komitmen Presiden Prabowo Kendalikan Inflasi
“Penyumbang utama deflasi November 2024 secara m-to-m, berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,14 persen,” kata Kepala BPS Sulawesi Tengah, Imron Taufik, saat Rilis Berita Resmi Statistik di Palu, Selasa, 2 Desember 2024.
Ia mengatakan, komoditas yang memberikan kontribusi deflasi antara lain ikan kembung, ikan selar, beras, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan ikan teri.
Sementara itu, inflasi y-on-y terbesar disumbangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,71 persen.
Sedangkan komoditas utama penyumbang inflasi, kata dia, antara lain sigaret kretek mesin, bawang merah, dan minyak goreng.
Kemudian, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,49 persen, dengan komoditas penyumbang utama emas perhiasan, tarif gunting rambut pria, dan pasta gigi.
“Kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran turut berkontribusi dengan andil 0,27 persen, di antaranya dari komoditas nasi dan lauk, ikan bakar, serta ayam goreng,” urainya.
Selain membahas inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah pada November 2024 tercatat sebesar 113,30, mengalami penurunan 0,76 persen dibandingkan Oktober 2024.
Ia menjelaskan, NTP merupakan indikator penting untuk melihat tingkat kemampuan dan daya beli petani di perdesaan, serta menunjukkan daya tukar produksi pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi ataupun biaya produksi.
Dalam sektor perdagangan luar negeri, total ekspor Sulawesi Tengah pada Oktober 2024 tercatat senilai US$1.744,70 juta, mengalami penurunan 8,90 persen atau sekitar US$170,55 juta dibandingkan bulan sebelumnya.
“Besi dan baja menjadi komoditas ekspor utama dengan nilai ekspor mencapai US$1.234,55 juta atau 70,76 persen dari total nilai ekspor.
Untuk total impor tercatat senilai US$1.024,64 juta, naik 21,73 persen atau US$182,88 juta dibandingkan bulan sebelumnya, dengan kontribusi terbesar dari mesin-mesin/pesawat mekanik senilai US$224,78 juta atau 21,94 persen dari total impor.
Dalam sektor transportasi, jumlah penumpang angkutan udara melalui bandara di Sulawesi Tengah selama Oktober 2024, tercatat 102.276 orang, turun 1,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Volume barang yang dibongkar di bandara tercatat 1.341,83 ton, turun 3,14 persen, sedangkan barang dimuat tercatat 592,74 ton, naik 1,18 persen dibandingkan September 2024,” bebernya.
Ia menyebut, angkutan laut juga menunjukkan pergerakan, dengan jumlah penumpang tercatat sebanyak 7.588 orang selama Oktober 2024.
Baca Juga: Tito Minta Pemda Jaga Stabilitas Inflasi Jelang Pilkada
Di sektor pariwisata, perjalanan Wisatawan Nusantara (Wisnus) di Sulawesi Tengah pada periode Januari hingga Oktober 2024 tercatat 7,75 juta perjalanan, mengalami kenaikan signifikan sebesar 35,36 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023.
“Untuk jumlah tamu yang menginap di hotel bintang selama Oktober 2024, tercatat 23.606 orang, dengan 23.426 orang tamu domestik dan 180 orang tamu mancanegara,” pungkasnya.







Komentar