PARIMO, theopini.id – Jum’at dini hari, 11 April 2025. Langit di atas Teluk Tomini masih gelap saat suara dering telepon membangunkan Mirawati (30) dari tidur. Dari seberang, seorang nelayan menyampaikan kabar yang mengguncang dunianya.
Suaminya, Rahman Hambali (29), ditemukan tak bernyawa setelah menyelam di perairan sekitar Desa Donggulu, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Kuasa Hukum Merasa Ada Kejanggalan pada Kasus Pembunuhan Bocah 8 Tahun di Palu
Saat itu, Mirawati tengah tidur bersama kedua anaknya di rumah kecil mereka di Desa Pinotu, Kecamatan Toribulu. Kabar itu, datang seperti petir di tengah malam.
Dengan tubuh gemetar, ia menggendong kedua anaknya dan berlari ke pesisir pantai. Di sana, dalam cahaya lampu perahu yang redup, ia melihat jasad suaminya terbujur kaku.
Beberapa jam sebelumnya, Rahman Hambali menyelam bersama dua rekannya hingga kedalaman 20 Meter untuk mencari ikan. Mereka menggunakan kompresor rakitan, alat bantu napas yang lazim dipakai oleh nelayan tradisional. Namun malam itu, sesuatu yang ganjil terjadi.
“Rekan-rekannya bilang sempat dengar suara seperti parang menebas, lalu selang bocor, seperti angin keluar. Mereka langsung kasih kode pakai senter supaya suami saya dan rekannya cepat naik,” ujar Mirawati dengan suara nyaris berbisik saat ditemui theopini.id, Senin, 16 Juni 2025.
Namun hanya dua penyelam yang berhasil kembali ke permukaan. Sementara Rahman Hambali tidak ikut muncul. Salah satu rekannya sempat melihatnya berusaha naik, tetapi tubuhnya justru kembali tenggelam ke dasar laut.
Tak lama kemudian, aliran oksigen dari mesin kompresor tiba-tiba melemah drastis, membuat rekannya tak mampu menyelam kembali untuk menolong.
Kecurigaan kian menguat ketika saksi menyebut, ada tiga perahu tak dikenal yang mengikuti perahu Rahman Hambali dan teman-rekannya malam itu.
Dua di antaranya mendekat dan melempar batu serta ladung ke arah tiga nelayan yang berjaga di perahu. Sementara Rahman Hambali dan dua rekannya masih berada di dalam laut.
“Dua perahu melempari rekan-rekan suami saya yang berjaga di atas. Salah satu dari mereka langsung kasih sinyal ke dasar laut pakai senter, supaya yang menyelam cepat naik,” kata dia.
Tapi di saat bersamaan, satu perahu lain justru mendekat dan diduga memotong selang kompresor yang digunakan Rahman.
“Kalau tidak ada tali yang nyangkut di tubuhnya, mungkin jasadnya hilang. Sampai sekarang saya masih tidak percaya, suami saya pergi begitu saja,” ujarnya.
Di atas perahu, upaya pertolongan sempat dilakukan. Air mengucur dari mulut Rahman, tapi napasnya tak pernah kembali.
Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke rumah. Kepala Desa Pinotu segera melapor ke Polsek Ampibabo. Proses visum dilakukan, para saksi dimintai keterangan.
Namun hingga lebih dari dua bulan berlalu, belum ada satu pun pelaku yang ditetapkan. Dugaan bahwa selang kompresor Rahman dipotong secara sengaja masih menggantung tanpa kejelasan.
“Saya sudah jalani BAP, semua saksi juga. Tapi tidak ada perkembangan. Polisi tidak pernah kasih kabar. Saya ini cuma ibu rumah tangga, orang susah. Saya cuma ingin keadilan,” tutur Mirawati lirih.
Sejak kepergian suaminya, hidup Mirawati berubah drastis. Ia kehilangan bukan hanya pasangan, tapi juga satu-satunya tulang punggung keluarga.
Kini, ia harus mengurus dua anak kecil sendirian, dibantu oleh ayahnya yang sudah renta dan masih melaut dengan perahu rakitan demi sesuap nasi.
“Kadang ada tetangga kasih sembako. Tapi itu cuma cukup buat beberapa hari,” ujarnya.
Putus asa karena tak kunjung mendapat kejelasan, Mirawati akhirnya membagikan kisah ini ke media sosial. Ia hanya ingin suaranya didengar.
“Bukan untuk cari perhatian. Saya cuma ingin kasus ini jangan dilupakan. Polisi juga sempat lama sekali tidak hubungi kami,” katanya.
Di tengah duka dan tuntutan hidup yang kian berat, harapan Mirawati sederhana: agar kematian suaminya tak dianggap sebagai kecelakaan biasa.
“Saya tidak minta lebih. Saya cuma ingin suami saya dapat keadilan. Karena dia tidak mati karena takdir. Tapi karena ada yang sengaja mencabut nyawanya,” imbuhnya.
Menanggapi hal itu, Kasat Reskrim Polres Parimo, IPTU Agus Salim, menjelaskan bahwa kasus dugaan pembunuhan di Desa Donggulu ditangani oleh Polsek Ampibabo. Ia menyatakan, pihaknya akan memberikan dukungan penuh dengan mengirim tim penyidik guna memperkuat proses penyelidikan.
Namun IPTU Agus tak menampik bahwa pengungkapan kasus ini menghadapi sejumlah kendala teknis. Lokasi kejadian berada di tengah laut, dalam kondisi gelap, dan minim bukti fisik.
Baca Juga: Polisi Temukan Bukti Baru Kasus Pembunuhan IRT di Banggai
“Tempat kejadian perkara berada di laut, saat malam hari, dan jarak dengan terduga pelaku cukup jauh. Saksi hanya mendengar suara seperti tebasan parang, tapi tidak bisa memastikan,” ujarnya saat konfrensi pers di Makopolres Parimo, Selasa, 17 Juni 2025.
Menurutnya, situasi tersebut membuat polisi memerlukan waktu dan kehati-hatian dalam mengidentifikasi pelaku yang diduga memotong selang kompresor milik korban.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar