GORONTALO, theopini.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya tentang memastikan anak-anak dan kelompok rentan mendapatkan asupan gizi yang layak.
Lebih dari itu, program prioritas nasional ini juga didorong menjadi mesin penggerak ekonomi lokal, dengan melibatkan petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga jasa penyedia pangan di daerah.
Baca Juga: Bupati Sigi Tinjau Program MBG di SMP Negeri 4 Sigi
“Program ini tidak hanya soal makan gratis. Ini strategi besar membangun sumber daya manusia sekaligus menggerakkan ekonomi dari hulu ke hilir,” tegas Tenaga Ahli Madya Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) RI, Brigjen TNI (Purn) Iriyanto, dalam rapat koordinasi di Kantor Gubernur Gorontalo, Rabu, 2 Juli 2025.
Ia menjelaskan, MBG dirancang bukan sekadar sebagai program intervensi gizi untuk anak-anak, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya, tapi juga untuk menciptakan rantai pasok yang sehat di daerah.
“Bayangkan, dari produksi sayur, telur, ikan, hingga pengolahan di dapur-dapur layanan, semua melibatkan warga lokal. Jadi ini akan membuka lapangan kerja baru, meningkatkan penghasilan petani, nelayan, dan UMKM,” jelasnya.
Program MBG dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga baru yang berdiri sejak Agustus 2024. Meski tergolong baru, BGN ditargetkan langsung tancap gas untuk melayani lebih dari 82 juta penerima manfaat se-Indonesia, termasuk di Gorontalo.
“BGN ini memang masih baru, ibarat bayi yang lahir langsung disuruh lari. Tapi kami optimis, dengan kolaborasi kuat antara pusat dan daerah, program ini bisa berjalan efektif,” ujar Iriyanto.
Salah satu tantangan besar, lanjutnya, adalah memastikan rantai pasok pangan berjalan lancar. Misalnya Gorontalo, dari target 101 dapur layanan MBG, baru delapan yang beroperasi. Targetnya tersebut, harus meningkat signifikan mulai Agustus.
Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menegaskan, pemerintah daerah siap mendukung penuh, baik dari sisi teknis maupun sumber daya manusia, demi suksesnya program tersebut.
“Insyaallah, MBG di Gorontalo mulai kita jalankan lagi bersamaan dengan tahun ajaran baru. Tapi memang harus bertahap. Karena yang kita siapkan bukan cuma bahan makanan, tapi juga dapur, tenaga pelaksana, hingga standar gizinya,” kata dia.
Baca Juga: Tinjau Uji Coba MBG, Wali Kota Makassar: Program Ini Sangat Luar Biasa
Ia juga menekankan, keberhasilan MBG tak lepas dari penyesuaian dengan budaya makan masyarakat lokal.
“Anak-anak Gorontalo itu terbiasa makan agak pedas. Jadi nanti menunya juga harus disesuaikan, tapi tetap sesuai standar gizi,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar