PARIMO, theopini.id – Kasus malaria di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah kembali bertambah.
Berdasarkan hasil Rapid Diagnostic Test (RDT) hingga Senin, 24 November 2025, dua warga terkonfirmasi positif. Satu di antaranya merupakan pekerja tambang, sementara satu lainnya adalah Ibu Rumah Tangga (IRT).
Baca Juga: Dua Penambang di Parimo Positif Malaria, Satgas Hadapi Kendala RDT di Wilayah Tambang
Kasus pertama dilaporkan pada Jum’at, 21 November 2025, menimpa seorang pendatang yang tinggal sementara di Dusun 4, Desa Sausu Tambu. Kasus kedua terdeteksi hari ini, melalui pemeriksaan lanjutan petugas kesehatan.
Sekretaris Desa Sausu Tambu, I Gusti Wijaya, mengatakan RDT mulai dilakukan sejak Selasa, 17 November 2025, dengan prioritas di Dusun 4 yang dinilai memiliki risiko lingkungan tinggi.
“Dari Selasa mulai di Dusun 4 karena lingkungannya kumuh. Di situ terdeteksi satu positif, dia pekerja tambang di Tambarana, Kabupaten Poso, dan langsung dibawa ke Puskesmas,” ujarnya.
Ia menambahkan, mayoritas warga Sausu Tambu berprofesi sebagai petani dan nelayan, meski ada beberapa yang pernah bekerja di tambang.
“Pekerja tambang sedikit, mungkin hanya dua. Yang kita tahu, aktivitas nambang di Salubanga juga sudah berhenti,” jelasnya.
Dari total 1.925 warga di enam dusun Desa Sausu Tambu, pemerintah desa menargetkan 80 persen atau sekitar 1.000 orang menjalani RDT, untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Perawat Puskesmas Sausu Tambu, Ni Gusti Ayu Wismasari, menyebutkan sekitar 500 warga telah diperiksa. Dua kasus positif ditemukan dalam kondisi sakit saat datang melakukan RDT.
“Yang di Dusun 4 itu datang sambil sakit. Sudah diarahkan ke Puskesmas Sausu dan sekarang sudah sembuh. Satu IRT itu, juga sedang demam,” katanya.
Baca Juga: Dinkes Parimo Fokus Lakukan RDT Malaria di Delapan Kecamatan
Saat ini tersedia 800 alat RDT, dan pemeriksaan akan berlangsung hingga 30 November 2025. Menurut Ayu Wismasari, masyarakat cukup kooperatif karena sebelumnya telah diberikan sosialisasi mengenai pentingnya deteksi dini malaria.
“Kami turun ke setiap dusun, bahkan dari rumah ke rumah. Tidak ada yang menolak, hanya banyak yang sibuk,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar