DONGGALA, theopini.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) menegaskan pentingnya gotong royong, dan kolaborasi lintas pihak dalam percepatan penurunan stunting.
Hal ini, ditandai dengan pencanangan Program Inovasi Berani Pelita Hati (Peduli Kesehatan Ibu dan Anak) oleh Gubernur Sulawesi Tengah, H Anwar Hafid bersama Wakil Gubernur dr. Reny Lamadjido, di Posyandu Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Sabtu, 20 Desember 2025.
Baca Juga: Pemprov Sulteng Dorong Perangkat Daerah Aktif Buka Akses Informasi
“Kalau ada rakyat kita seperti itu, harus dibantu, bukan dijauhi. Jangan sampai pencanangan hari ini berhenti sampai di sini,” tegas Gubernur Anwar Hafid.
Ia menekankan, stunting bukan penyakit menular dan bukan aib, melainkan kondisi yang harus ditangani bersama melalui intervensi gizi, pendampingan keluarga, serta dukungan komunitas.
Ia meminta perangkat daerah, desa, PKK, dan OPD untuk terlibat aktif agar bantuan gizi langsung menyentuh keluarga sasaran.
“OPD jangan datang ke rumah binaan dengan tangan kosong. Bawa telur, buah, susu. Bukan hanya anaknya yang diurus, ibunya juga harus kita perhatikan,” tandasnya.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny Lamadjido menegaskan, PKK menjadi ujung tombak utama penurunan stunting karena bergerak langsung hingga tingkat dasawisma.
“Struktur PKK memungkinkan intervensi by name, by address, by case. Ini yang membuat program berjalan nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia memaparkan, prevalensi stunting Sulawesi Tengah terus menurun, dari 27,1 persen pada 2023 menjadi 26,1 persen di 2024.
Data EPPGBM 2025 menunjukkan capaian lebih baik, yakni sekitar 9,6 persen secara provinsi dan 19,6 persen di Kabupaten Donggala.
Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Tengah, Sry Nirwanti Bahasoan, menambahkan pendekatan sosial dan budaya juga menjadi bagian penting program ini.
Stiker pink “Ayo Cegah Stunting” dipasang di rumah anak stunting, sebagai simbol kasih sayang dan gotong royong, bukan untuk memberi stigma.
“Stiker ini menandai rumah anak stunting agar mendapat perhatian bersama. Setelah anak keluar dari kategori stunting, stiker akan dicabut,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Donggala Taufik Burhan menyampaikan, prevalensi stunting di Kabupaten Donggala turun signifikan, dari 34,1 persen pada 2023 menjadi 29,16 persen di 2024, dan kini mencapai 17,1 persen, di bawah standar nasional 18,6 persen.
Baca Juga: 256 Bencana Terjadi Sepanjang 2025, Pemprov Sulteng Siapkan Langkah Antisipasi
“Ini hasil kerja kolaboratif semua pihak, terutama peran PKK, kader posyandu, dan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari intervensi berkelanjutan, Pemprov Sulawesi Tengah juga menyerahkan bantuan pemanfaatan pekarangan untuk peningkatan asupan gizi keluarga di Desa Nupabomba.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar