Pergantian Tahun, Pemprov Sulteng Tekankan Solidaritas dan Empati Nasional

PALU, theopini.id Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) mengajak masyarakat mengisi malam pergantian tahun dengan doa dan refleksi, sebagai wujud solidaritas terhadap daerah-daerah yang tengah dilanda bencana.

“Malam ini kita tidak merayakan dengan euforia. Kita memilih berdoa sebagai bentuk empati dan solidaritas kepada saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang sedang diuji bencana,” ujar Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid saat Tabligh Akbar dan dzikir bersama di Masjid Raya Baitul Khairaat Palu, Rabu malam, 31 Desember 2025.

Baca Juga: Polda Sulteng Kirim 6 Truk Bantuan, Solidaritas Mengalir untuk Korban Bencana Aceh

Ia mengungkapkan, sebelum mengikuti Tabligh Akbar, dirinya bersama Kapolda Sulawesi Tengah melakukan patroli untuk memastikan situasi keamanan Kota Palu tetap kondusif.

“Alhamdulillah, kondisi Kota Palu relatif aman dan tenang. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat semakin tinggi untuk merayakan pergantian tahun dengan cara yang lebih bermakna,” katanya.

Menurut Anwar, imbauan pemerintah agar masyarakat merayakan malam tahun baru secara sederhana bukan sekadar seruan moral, melainkan refleksi dari pengalaman pahit Sulawesi Tengah saat menghadapi bencana besar pada 2018.

“Kita pernah berada di posisi yang sama, merasakan duka dan kehilangan. Karena itu, empati dan doa adalah hal paling tulus yang bisa kita kirimkan,” ucapnya.

Ia juga mengapresiasi masyarakat yang memilih memadati masjid untuk berdzikir dan berdoa bersama, dibandingkan menghabiskan malam pergantian tahun dengan pesta dan hiburan berlebihan.

“Ini adalah modal sosial yang sangat penting. Dari sini kita memulai tahun baru dengan hati yang bersih, niat yang baik, dan kepedulian terhadap sesama,” lanjut Anwar.

Sementara itu, penceramah Tabligh Akbar, Ustadz Ruslan Demanto menekankan, pergantian tahun sejatinya adalah momentum muhasabah, baik bagi pemimpin maupun masyarakat.

“Setinggi apa pun jabatan dan sebesar apa pun harta, kita tetap hamba Allah. Ujian terbesar manusia ada pada harta dan kedudukan,” kata Ustadz Ruslan dalam tausiyahnya.

Baca Juga: ASN Sulteng Didorong Perkuat Solidaritas Nasional pada Apel HUT ke-54 Korpri

Ia mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada rasa merasa “ada” dan lebih tinggi dari orang lain, karena sikap tersebut dapat menghilangkan ketenangan hidup.

“Ketika seseorang merasa paling ada, di situlah adab mulai hilang. Padahal Allah mencintai hamba yang rendah hati,” tuturnya.

Tabligh Akbar dan dzikir bersama yang dihadiri Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido, Sekretaris Daerah Novalina, unsur Forkopimda, tokoh agama, serta ribuan jamaah itu, ditutup dengan doa bersama menjelang pergantian tahun, memohon keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi Sulawesi Tengah dan seluruh bangsa Indonesia.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar