PARIMO, theopini.id – Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora, menyebut pendampingan yang dilakukan lembaganya selama sekitar 15 tahun di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah telah memberikan dampak positif bagi perlindungan anak.
Meski demikian, ia mengingatkan masih adanya tantangan baru berupa meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak yang memerlukan perhatian bersama.
“Program pendampingan Wahana Visi Indonesia telah memberikan manfaat bagi lebih dari 2.500 anak. Kami juga bersuka cita karena dari 42 desa yang ditetapkan sebagai Desa Layak Anak di Kabupaten Parimo, sebanyak 11 desa merupakan desa dampingan Wahana Visi Indonesia,” ujar Angelina pada penutupan area program Wahana Visi Indonesia di Kabupaten Parimo, Kamis, 25 Juni 2026.
Angelina menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Parimo yang telah bermitra dengan Wahana Visi Indonesia selama kurang lebih 15 tahun dalam berbagai program peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya perlindungan anak.
Menurutnya, salah satu capaian penting dari kolaborasi tersebut adalah menurunnya angka kekerasan terhadap anak, dari 52 persen menjadi 22,7 persen.
Namun, di balik capaian itu, Wahana Visi Indonesia mencatat peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap anak pada 2025, dari 1,7 persen menjadi 7,7 persen.
“Kasus naik karena mereka sudah paham, mau menjadi pelopor dan pelapor dalam kasus kekerasan,” katanya.
Ia menjelaskan, meningkatnya angka pelaporan tidak selalu menunjukkan bertambahnya kejadian kekerasan, tetapi juga mengindikasikan bahwa anak-anak semakin memahami hak-haknya dan berani melaporkan tindak kekerasan yang dialami.
Angelina juga mengingatkan bahwa ancaman kekerasan seksual kini tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui ruang digital. Karena itu, menurutnya, penguatan sistem perlindungan anak harus terus dilakukan, mulai dari pencegahan, mekanisme pelaporan, hingga penanganan kasus.
Selain itu, diperlukan peningkatan kapasitas sumber daya, dukungan kebijakan, dan alokasi anggaran agar sistem perlindungan anak dapat berjalan secara optimal.
Ia berharap masyarakat dan pemerintah daerah terus menjaga kolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak serta melibatkan mereka dalam proses pembangunan.
Angelina juga menyampaikan terima kasih kepada Pemda Parimo, seluruh masyarakat, serta para sponsor dari Malaysia yang telah mendukung pelaksanaan program selama ini.
Menurutnya, penutupan area program bukan berarti berakhirnya upaya mewujudkan kesejahteraan anak, melainkan menjadi tonggak untuk melanjutkan komitmen bersama.
“Kami percaya pemerintah dan masyarakat Kabupaten Parimo memiliki kapasitas, kemauan, dan semangat gotong royong untuk melanjutkan upaya menghadirkan kesejahteraan bagi anak dan keluarga,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar