PALU, theopini.id – Tenun Donggala, Sulawesi Tengah, masuk dalam daftar produk indikator geografis yang diperkenalkan Indonesia pada Sidang Majelis Umum ke-65 Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO), di Jenewa, Swiss.
“Sulawesi Tengah diwakili satu produk indikasi geografis dengan nomor pendaftaran IDG000000145, yakni Tenun Donggala,” kata Kepala Kanwil Kemenkumham Sulawesi Tengah, Hermansyah Siregar, dalam keterangan resminya, di Palu, Selasa, 9 Juli 2024.
Baca Juga: Tiga Produk IG Sulteng Akan Dipamerkan di Kekayaan Intelektual Expo 2024
Ia mengatakan, Tenun Donggala sebelumnya telah mendaftarkan sertifikat kekayaan intelektual pada 19 April 2024, atas kolaborasi Kemenkumham bersama Pemerintah Daerah Donggala.
Menurunya, masuknya Tenun Donggala dalam daftar produk indikator geografis Indonesia, tentu menjadi kebanggaan, dan diharapkan memberikan dampak kemajuan bagi daerah serta pengrajin tenun.
“Kita akan terus berupaya, agar senantiasa memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa dan negara ini,” ujarnya.
Diketahui, Indonesia mendapatkan kesempatan, memperkenalkan 135 produk indikasi geografis lokal pada Sidang Majelis Umum ke-65 WIPO.
Produk-produk yang dipamerkan meliputi kopi, produk perkebunan, rempah, kerajinan tangan, hingga perikanan dan kelautan.
Indonesia dengan bangga memamerkan kekayaan budaya, dan kearifan lokal dihadapan para delegasi dari berbagai negara anggota WIPO.
Produk tersebut, tidak hanya merefleksikan keanekaragaman alam Indonesia, tetapi juga nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Produk-produk indikasi geografis ini, merupakan bukti nyata dari kerja keras petani dan pengrajin lokal, serta komitmen pemerintah dalam mempromosikan dan melindungi kekayaan intelektual Indonesia,” ucap Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen KI), Min Usihen, di Jenewa, Swiss, Selasa, 9 Juli 2024.
Ia berharap, kesempatan ini dapat meningkatkan pemahaman global tentang pentingnya melindungi indikasi geografis, untuk mendukung keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Indonesia sendiri, kata dia, merupakan negara biodiversitas dan penghasil kopi terbesar kedua setelah Brazil.
Pameran ini, akan berlangsung pada 9-17 Juli 2024, di Lobby WIPO Saloon Apollon dengan tema komoditas yang berbeda setiap harinya.
Baca Juga: Disperindag Parimo Ajak Masyarakat Gunakan Kain Tenun Taopa
Kehadiran Indonesia di Sidang Majelis Umum WIPO juga memberikan kesempatan, untuk membangun kemitraan internasional dalam mengembangkan strategi pelindungan lebih lanjut produk-produk indikasi geografis.
“Ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi ekspor produk-produk tersebut ke pasar internasional, sambil menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendukung penghidupan berkelanjutan bagi komunitas lokal,” pungkasnya.






