PALU, theopini.id – Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) 2024 merilis poin penting yang dikeluhkan, dan menjadi kebutuhan mendesak masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng).
Salah satu yang serius, adalah kelangkaan pupuk yang masih menjadi penghambat produksi panen petani di Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Ketua DPD RI Dorong Transparansi Distribusi Pupuk Subsidi
Padahal, keberhasilan dalam usaha tani ditentukan oleh hasil produksi, yang sangat seharusnya ditunjang ketersediaan pupuk. Namun hingga saat ini, masih menjadi permasalahan.
Permasalah ini, ternyata tak luput dari perhatian Bakal Calon Gubernur Sulawesi Tengah Ahmad Ali, yang cukup akrab terkait persoalan pertanian dan hortikultura, karena beberapa kali membantu pengembangan budidaya Melon di Sulawesi Tengah.
Temuan data survei tersebut, dinilai Ahmad Ali, jelas dan terang petani masih tidak keluar dari perangkap kelangkaan. Jika tidak ditanggulangi, maka kegagalan sejahtera tak bisa ditutupi opini politik apapun.
“Kalaupun ada tersedia, tetapi harganya sudah mahal. Alasannya bermacam-macam. Mulai dari tata niaganya yang panjang hingga disinyalir ada pihak tertentu, ikut bermain untuk mengeruk keuntungan, rumit sekali,” tegasnya, Selasa, 23 Juli 2024.
Bahkan, bisa jadi berkurangnya alokasi itu, dikhawatirkan menyulut gejolak di kalangan petani. Sebab, mereka harus menebus pupuk non-subsidi dengan harga lebih mahal berkali lipat.
Dengan kondisi seperti itu, kata dia, para petani penyewa lahan paling terdampak, karena tertekan biaya produksi yang semakin tinggi.
Data BPS pada 2023, petani di Sulawesi Tengah mencapai 457.605 orang. Dari jumlah tersebut, 123.014 orang merupakan petani milenial, berusia 19–39 tahun, atau sekitar 28,63 persen. Selain itu, 49.536 petani lainnya, berstatus miskin ekstrem.
Provinsi Sulawesi Tengah, memiliki peluang menjadi penyangga pangan nasional. Jika dilihat dari luas lahan, daerah ini memiliki lahan pertanian cadangan pangan berkelanjutan mencapai kurang lebih 400 ribu hektar.
Baca Juga: Dinas TPH Sulteng Dukung Sensus Pertanian 2023
Ahmad Ali berharap, alokasi pupuk bersubsidi bisa ditambah. Meskipun tidak lebih tinggi, setidaknya koutanya bisa sama dengan tahun sebelumnya.
“Salah satu masalahnya adalah subsidi diberikan berbasiskan anggaran, bukan berdasarkan volume pupuk yang dihitung sesuai dengan kebutuhan petani. Di sisi lain, biaya produksi pupuk amat bergantung pada harga gas, dan nilai kurs rupiah,” pungkasnya.

Komentar