Cegah Kepunahan Bahasa Daerah, Sekda Sigi Dorong Generasi Muda Cinta Bahasa Ibu

PALU, theopini.idDi tengah derasnya arus globalisasi yang menggerus budaya lokal, Pemerintah Daerah (Pemda) Sigi, Sulawesi Tengah menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian bahasa daerah.

Hal itu, ditandai dengan kehadiran Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, Nuim Hayat, dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengajar Utama Revitalisasi Bahasa Daerah untuk Tunas Bahasa Ibu, yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah di Kota Palu, Kamis, 26 Juni 2025.

Baca Juga: FTBI 2024: Wujud Nyata Pelestarian Bahasa Daerah di Sulteng

“Revitalisasi bahasa daerah bukan sekadar mempertahankan bahasa agar tidak punah, tetapi juga menghidupkan kembali jati diri, nilai, dan kearifan lokal yang melekat dalam budaya masyarakat kita,” ujar Nuim Hayat dalam sambutannya.

BACA JUGA:  PPNI: Masih Banyak Ditemukan Perawat yang Tidak Diberi Upah Layak

Ia menegaskan, tanpa upaya serius melibatkan semua pihak, bahasa daerah terancam hilang seiring dengan berkurangnya penuturnya, terutama di kalangan generasi muda.

Olehnya, ia mendorong agar penguatan bahasa ibu dilakukan sejak dini melalui jalur pendidikan dan keluarga.

“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Bahasa adalah identitas. Kehilangan bahasa berarti kehilangan sejarah, kehilangan warisan, dan kehilangan jati diri,” ujarnya.

Bimtek ini, menjadi bagian dari strategi nasional pelestarian bahasa daerah yang kini masuk kategori terancam punah. Para peserta yang merupakan pengajar utama akan berperan sebagai fasilitator dalam program Tunas Bahasa Ibu, khususnya untuk anak-anak di tingkat pendidikan dasar.

Kegiatan ini, menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, pegiat budaya, dan tokoh adat yang memiliki kompetensi dalam pengembangan bahasa dan budaya lokal.

BACA JUGA:  Lepas Kontingen PENAS KTNA, Begini Harapan Wagub Sulteng

Mereka membekali para peserta dengan metode pengajaran yang kreatif dan adaptif untuk menarik minat anak-anak dalam mempelajari bahasa daerah.

Baca Juga: Pemkot Makassar Terima Penghargaan Perlestasian dan Perlindungan Bahasa Daerah

Nuim Hayat berharap, melalui program ini, akan tercipta kesadaran kolektif di tengah masyarakat untuk kembali menggunakan bahasa daerah, tidak hanya di ruang-ruang formal seperti sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan komunitas.

“Revitalisasi bahasa adalah tanggung jawab bersama. Harapannya, bahasa daerah tidak sekadar dipelajari, tapi dipakai dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar