PALU, theopini.id — Gubernur Sulawesi Tengah, H Anwar Hafid menegaskan, penguasaan bahasa asing, khususnya Mandarin, akan menjadi bekal penting bagi tenaga kerja lokal agar mampu bersaing dan terserap di kawasan industri pertambangan.
“Kita tidak ingin melatih orang tanpa arah. Pelatihan harus berbasis kebutuhan perusahaan, sehingga setelah selesai mereka langsung terserap kerja, tidak ada yang menganggur,” tegas Anwar saat menerima audiensi PT Cahaya Ilmu Kreatif di ruang kerjanya, Kamis, 4 September 2025.
Baca Juga: Pemkot Palu Fasilitasi 45 ASN Kursus Bahasa Asing
Ia menjelaskan, pemerintah daerah ingin memastikan setiap pelatihan vokasi dan bahasa benar-benar selaras dengan kebutuhan industri.
Karena itu, sebelum program dimulai, perusahaan kawasan industri akan diajak menandatangani nota kesepahaman (MoU) agar jumlah dan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan jelas sejak awal.
Melalui skema ini, pemerintah daerah menjadi pintu utama rekrutmen. Perusahaan menyampaikan kebutuhan, lalu pemerintah mengoordinasikan pelatihan dengan PT Cahaya Ilmu Kreatif dan mitra lainnya. Setelah lulus, peserta langsung disalurkan kembali ke perusahaan.
“Peserta akan kita prioritaskan dari lulusan SMK, politeknik, dan masyarakat umum di Sulawesi Tengah. Prinsipnya, ini semua untuk membuka akses kerja seluas-luasnya bagi putra-putri daerah,” tambah Anwar.
Perwakilan PT Cahaya Ilmu Kreatif, Yeni menuturkan, program pelatihan akan menggabungkan bahasa Mandarin dengan kompetensi teknis industri.
Baca Juga: FTBI 2024: Wujud Nyata Pelestarian Bahasa Daerah di Sulteng
“Dalam enam bulan, peserta sudah bisa berkomunikasi sehari-hari sekaligus memahami istilah industri dan pertambangan. Ini sangat dibutuhkan karena sebagian besar peralatan di kawasan industri berbasis teknologi Tiongkok,” jelasnya.
Selain bahasa, materi pelatihan juga mencakup Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai standar dasar di lingkungan industri.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar