MAKASSAR, theopini.id – Wali Kota Makassar, H. Munafri Arifuddin resmi menandatangani perjanjian kerja sama pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Sabtu, 4 April 2026.
Penandatanganan ini, dilakukan Munafri Arifuddin bersama bersama Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang dan Bupati Maros, Andi Syafril Chaidir Syam juga disaksikan Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq.
“Kolaborasi ini dirancang untuk memastikan pengelolaan sampah tidak dilakukan secara parsial, melainkan melalui kerja sama antarwilayah dengan pendekatan aglomerasi,” ujar Wali Kota Munafri.
Menurut Munafri, timbulan sampah Kota Makassar mencapai sekitar 800 ton per hari, sementara kapasitas pengangkutan baru 67 persen.
Dengan tambahan pasokan dari Kabupaten Gowa sekitar 150 ton per hari dan Maros sekitar 50 ton per hari, fasilitas PSEL diproyeksikan mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari sekaligus menghasilkan listrik sebesar 20–25 MegaWatt, tergantung kualitas sampah.
Ia menegaskan, teknologi PSEL yang digunakan modern, teruji, dan aman bagi lingkungan. Lokasi pembangunan seluas 7 hektare di kawasan TPA Tamangapa dipilih, karena memiliki potensi bahan baku tambahan dari timbunan sampah lama yang masih dapat dimanfaatkan.
“PSEL hadir untuk mengolah sampah agar tidak menggunung, dengan pengolahan yang telah memenuhi standar keamanan. Teknologi ini modern dan terbukti aman,” jelasnya.
Selain membangun PSEL, Pemkot Makassar tengah memperbaiki seluruh sistem persampahan, termasuk transisi dari open dumping ke sanitary landfill, pemilahan sampah berbasis RT/RW, penguatan bank sampah, optimalisasi TPS3R, serta pemanfaatan maggot, kompos, dan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel).
“Semua blok yang terbuka sudah kami tutup setiap hari agar tidak ada lagi open dumping yang bisa mencemari kota,” tambah Munafri.
Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, proyek PSEL ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mengatasi persoalan timbulan sampah perkotaan yang mencapai 1.000 ton per hari secara sistemik.
“Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan mampu mengubah cara pengelolaan sampah dan memberikan solusi jangka panjang bagi kota-kota besar di Indonesia,” ujarnya.
Kolaborasi lintas daerah ini, menjadi langkah konkret untuk mendukung program nasional waste to energy, sekaligus menjawab tantangan timbulan sampah di kawasan Mamminasata dan memaksimalkan manfaat lingkungan sekaligus energi bagi masyarakat.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar