Kekhawatiran Ibu Korban Pasca Anaknya Alami Tindak Asusila 11 Pelaku

PARIMO, theopini.id Tindak asusila terhadap remaja 15 tahun ulah 11 pelaku, di antaranya oknum kepala desa, tenaga guru sekolah dasar hingga oknum anggota Brimob di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, viral dan menghebohkan masyarakat.

Hampir seluruh media masa, memberitakan perkembangan penanganan Kepolisian setempat atas kasus tersebut, hingga kondisi korban pasca alami tindakan bejat para pelaku.  

Baca Juga: Tersangka Kasus Asusila Libatkan Oknum Kades di Parimo Bertambah

Apa yang dialami korban, menimbulkan rasa keprihatinan serta kekhawatiran dari masyarakat setempat, karena takut sewaktu-waktu anaknya mengalami tindakan serupa.

Bagitu juga Ibu korban asusila ulah 11 pelaku. Meskipun, Kepolisian telah menetapkan 10 pelaku sebagai tersangka, dan mendapatkan pendampingan dari instansi pemerintahan, ia masih saja khawatir.

Kepada saya, Ibu korban berinisial H mengungkapkan kekhawatirannya atas kondisi anaknya yang harus menjalani serangkaian pemeriksaan di salah satu rumah sakit di Kota Palu.

“Sedih lihat kondisinya seperti ini. Anak saya, mengalami banyak perubahan karena masalah yang dihadapinya, mulai dari perilaku hingga kesehatan,” kata ibu korban, saat saya menemuinya di salah satu lokasi, pekan kemarin.

Hasil pemeriksaan medis awal, dinyatakan dalam kandungan anaknya terdapat cairan, dan terinfeksi. Bahkan, kemungkinan terburuk dilakukan tindakan operasi untuk pengangkatan rahim.

Kondisi ini, semakin diperparah dengan rasa sakit di bagian dada yang tiba-tiba membuat anaknya sulit tertidur nyenyak.

Kehilangan nafsu makan, sering menjerit kesakitan dan tak jarang tenaga medis kewalahan karena anaknya takut dengan jarum suntik.

H sangat terpukul, dan terus menyesali berbagai peristiwa yang terjadi. “Kalau saja, anak saya bercerita saat itu. Saya akan segera datang memberikan pertolongan. Tapi semuanya sudah terjadi,” imbuh penuh penyesalan.

Apalagi, ia yang saat kejadian bekerja di luar Sulawesi Tengah, sempat menaruh kecurigaan ketika anaknya bercerita sering mengalami sakit di bagian perut.

“Saat bekerja jauh dari anak saya, kami berkomunikasi dengan baik. Selama bekerja, saya sering menelponnya. Jadi saya mendengarkan keluh kesahnya, tapi sayangnya dia tidak pernah cerita soal apa yang dialaminya,” ungkapnya.     

H menduga, apa yang dialami anaknya karena beberapa kali dibawa ke tukang urut oleh para pelaku, karena takut akibat perbuatan mereka, sang anak akan mengandung.

Bukan hanya itu, terkadang anaknya diperlakukan kasar oleh para pelaku, bila tak memenuhi keinginan mereka, mulai dari pemukulan, pengencaman, penghinaan hingga sempat mengalami kekerasan seksual pada waktu yang tidak tepat.

Padahal, harapan anaknya kepada para pelaku, ialah pekerjaan yang baik, agar bisa membantu orang tua dan memberikan jajanan adik-adiknya.

“Setelah apa yang dialaminya, anak saya selalu bilang, apa saya salah kalau bekerja? Saya ingin membantu memenuhi kebutuhan adik-adik,” ujar H mengutip kembali ucapnya anaknya.

Ia pun khawatir akan stigma orang-orang tertentu kepadanya, karena tak bersama anaknya dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan stigma yang seolah-olah menyudutkan dan berniat memadamkan semangat anaknya untuk mendapatkan keadilan dengan menyebarkan isu yang belum tentu kebenarannya.

“Apapun omongan orang terhadap anak saya, dia tetap bidadari kecilku yang sama saat saya lahirkan 16 tahun lalu,” tegas H.

Tangisan ibu korban pecah, suasana berubah menjadi haru. Saya pun terenyuh, merasakan kekhawatiran hingga kegelisahannya.

H membuka kembali percakapannya, dengan penuh keyakinan membantah tuduhan yang dialamatkan kepada anaknya.

Ia sangat meyakini, bahwa bidadari kecilnya tak bekerja sebagai penawar jasa seperti yang disangkakan. Sebab, dalam setiap aksi tindak asusila, para pelaku memaksa anaknya untuk mengkonsumsi narkoba, mengancam serta menganiayanya.

“Anak saya masih di bawah umur. Dia pasti sangat tertekan pada situasi itu. Sementara dia berada di lingkungan orang-orang yang seharusnya melindungi, namun ternyata memiliki niat jahat,” tukasnya.

Sebagai ibu kandung korban, H akan senantiasa memberikan dukungan dan motivasi kepada anaknya, agar ikhlas dan sabar menjalani perawatan medis di rumah sakit.

Bila pulih nanti, ia pun berkeinginan menyekolahkannya kembali, agar masa depan anaknya lebih baik, dan melupakan perjalanan kelam yang dialaminya.

“Saya akan menghabiskan banyak waktu untuk anakku, ketika sehat nanti. Saya tidak akan sia-siakan itu,” imbuhnya.

Baca Juga: UPT PPA DP3A Sulteng Ungkap Kondisi Korban Asusila Ulah 11 Pelaku

H juga berharap, proses hukum atas kasus anaknya berjalan dengan baik, dan beberapa tersangka yang belum ditahan segera tertangkap, dan diberikan hukuman seberat-beratnya.

Ibu korban pun sangat berterima kasih kepada Kepolisian, Pemerintah dan masyarakat yang terus memberikan dukungan kepada anaknya.

“Semoga Allah SWT, membalas kebaikan kalian,” ucap H menutup percakapan.

Penulis: Novita Ramadhan

Komentar