BALI, theopini.id – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) kampanyekan sekolah sehat, untuk mewujudkan anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
“Adapun tiga fokus utama dalam Kampanye Sekolah Sehat, menurutnya, yaitu sehat bergizi, sehat fisik, dan sehat imunisasi,” kata Direktur Sekolah Dasar, Muhammad Hasbi, dalam acara Festival Permainan Tradisional di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Bali, Selasa, 6 Juni 2023.
Baca Juga: Kemendikbudristek Distribusikan Buku Bacaan Bermutu
Saat peluncurannya, kata dia, Mendikburistek menyampaikan kampanye ini bukan sekedar program, tetapi gerakan bersama dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, sekolah, peserta didik, orang tua, hingga mitra swasta, serta organisasi nirlaba.
Untuk itu, lanjutnya, semua stakeholder pendidikan baik murid, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, orang tua, Dinas Pendidikan, dan masyarakat dapat mengambil peran dalam menyukseskan kampanye sekolah sehat. Salah satunya melalui Festival Permainan Tradisional.
“Murid yang sehat dapat meningkat daya konsentrasinya dalam belajar. Stakeholder pendidikan yang sehat berpengaruh pada kinerja dalam membantu peningkatan kualitas pembelajaran,” kata dia.
Selain untuk menjaga kesehatan peserta didik, Festival Permainan Tradisional juga dapat melestarikan budaya permainan rakyat yang saat ini sudah hampir punah serta meningkatkan persaudaraan, kebersamaan, dan kebhinekaan antar sesama peserta didik.
“Indonesia sangat kaya dengan permainan dan olahraga tradisional. Namun seiring berkembangnya teknologi yang juga menyajikan berbagai permainan dan hiburan berbasis digital, telah menjauhkan anak-anak dari permainan tradisional,” tukasnya.
Hal ini, merupakan kondisi yang memprihatinkan, mengingat permainan dan olahraga tradisional selain bermanfaat sebagai aktivitas fisik, juga menjadi pembentukan karakter peserta didik.
Contohnya, adalah permainan Sepit-sepitan yang terkenal di kalangan masyarakat Bali, yang berupa memindahkan bola dengan capit kayu, dapat mengajarkan kejujuran, sportivitas, dan kerja keras.
Kemudian, Deduplak merupakan permainan tradisional Bali yang tercatat dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2017.
Baca Juga: Kemendikbudristek dan UNICEF Luncurkan Modul Remaja Sehat Jiwa Raga
Permainan tradisional yang sangat sederhana ini, bertujuan untuk membentuk dan membina watak melalui bermain. Namun saat ini, kedua permainan tersebut sudah hampir jarang terlihat dan dimainkan oleh anak-anak di Bali.
“Menggalakkan kembali permainan tradisional dapat menjadi alternatif untuk mengalihkan anak dari penggunaan gadget yang berlebihan, dan sekaligus sebagai upaya melestarikan permainan tradisional,” pungkasnya.








Komentar