Melihat dari Dekat Upaya DSLNG Melestarikan Burung Maleo di Banggai

BANGGAI, theopini.id Sore itu, Jumat, 26 September 2025, bersama sejumlah jurnalis dari Palu dan Luwuk Banggai, saya berkunjung ke kawasan penangkaran burung maleo milik PT Donggi Sinoro Liquefied Natural Gas (DSLNG).

Lokasinya berada di zona hijau perusahaan, tak jauh dari bibir pantai. Suasana asri langsung terasa, deretan pohon tumbuh rindang mengelilingi kandang-kandang penangkaran.

Baca Juga: Gubernur Sulteng Melepasliarkan Burung Maleo ke Habitat Aslinya

Di dalam area tersebut, terdapat beberapa kandang dengan fungsi berbeda: kandang perkawinan, kandang peranakan, kandang indukan, hingga ruang inkubasi.

Kandang indukan tampak paling luas dan teduh, dinaungi pepohonan, diisi sejumlah maleo dewasa. Dari balik pagar kawat, burung berwarna hitam dengan dada putih itu berjalan perlahan, sesekali mengais tanah seakan mencari makan di alam liar.

Ada rasa kagum sekaligus haru saat melihatnya. Burung yang selama ini hanya saya kenal dari gambar di buku atau foto di internet, kini hadir nyata di depan mata. Geraknya tenang, matanya tajam, tapi sekaligus menyiratkan kerentanan, seolah mengingatkan betapa pentingnya melindungi mereka agar tidak hilang dari alam Sulawesi.

Kami yang datang dipandu oleh Eksternal Communication Supervisor DSLNG, Rachmad Aziz, lalu disambut CSR Manager PT DSLNG, Febriant Abby.

Ia menuturkan sejarah penangkaran tersebut. Menurutnya, program ini lahir dari komitmen perusahaan untuk menjaga satwa langka, sekaligus melibatkan masyarakat dalam edukasi konservasi.

Burung maleo (Macrocephalon maleo) indukan yang dipelihara di kandang penangkaran kawasan PT Donggi-Senoro LNG, Sulawesi Tengah.

“Maleo adalah kebanggaan Sulawesi. Kami berupaya melestarikan sekaligus mengenalkan kepada masyarakat pentingnya menjaga habitatnya. Sejauh ini, sudah 127 ekor maleo berhasil dilepasliarkan ke Suaka Margasatwa Bangkiriang. Saat ini, masih ada 22 ekor di sini sebagai bagian dari edukasi,” ujar Febriant.

Penangkaran ini dilengkapi fasilitas inkubasi. Telur-telur maleo yang diserahkan masyarakat atau hasil sitaan BKSDA Sulawesi Tengah ditetaskan dengan pengaturan suhu, cahaya, dan pakan yang mendekati kondisi alaminya. Kemiri menjadi makanan utama bagi burung yang dikenal pemalu ini.

Namun menjaga maleo bukan perkara mudah. Satwa ini sangat sensitif terhadap suara keras. Saat panik, anak maleo yang baru menetas bisa terluka hingga pertumbuhannya terganggu.

“Kami berusaha meniru habitat asli semaksimal mungkin. Tapi perilaku maleo yang mudah panik menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pelepasliaran tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus ada pendampingan dan monitoring dari BKSDA secara rutin,” jelas Febriant.

Lebih dari sekadar konservasi, program ini juga menjadi ruang pembelajaran. DSLNG membuka kesempatan bagi pelajar dan masyarakat umum untuk melihat langsung burung maleo, memahami perilakunya, sekaligus mengaitkannya dengan budaya lokal.

Di Kecamatan Batui, misalnya, terdapat tradisi adat Tumpek yang mensyaratkan penggunaan telur maleo. Hal ini, kata Febriant, memperlihatkan betapa erat hubungan satwa ini dengan kehidupan masyarakat setempat.

Baca Juga: Pegiat dan Pemerhati Lingkingan Terima Penghargaan dari Pemprov Sulteng

“Budaya itu menunjukkan pentingnya maleo bagi orang Banggai. Karena itu, pelestariannya juga berarti menjaga identitas budaya,” tambahnya.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar