DONGGALA, theopini.id — Di tengah keterbatasan fasilitas dan sarana belajar, SDN 2 Banawa di Desa Loli Tasiburi, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, tetap teguh menjaga warisan budaya daerah.
Sekolah ini, menjadi salah satu dari sedikit lembaga pendidikan dasar di Sulawesi Tengah yang masih aktif mengajarkan bahasa daerah Unde sebagai mata pelajaran muatan lokal setiap minggu.
Baca Juga: Bahasa Daerah Jadi Kunci Prestasi SD Negeri 8 Banawa di Ajang Nasional
“Kami ingin anak-anak tidak melupakan bahasa daerah mereka sendiri. Walaupun alat praktik masih terbatas, kami terus berusaha agar pembelajaran berjalan dengan baik,” ujar Kepala Sekolah Loli Tasiburi Ihlas, Selasa, 14 Oktober 2025.
Melalui pembelajaran bahasa Unde, siswa tidak hanya belajar berkomunikasi menggunakan bahasa ibu, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya.
Ia menyebutkan, pengajaran bahasa daerah menjadi bagian penting dalam membentuk karakter siswa yang menghargai identitas lokal di tengah arus globalisasi.
Sekolah yang memiliki sekitar 185 siswa dengan 10 rombongan belajar dan 17 guru ini juga menunjukkan kemajuan di bidang lain.
Selama satu semester terakhir, tidak ada siswa yang putus sekolah, menjadi bukti keberhasilan program wajib belajar di tingkat dasar.
“Kami sangat terbantu dengan semangat guru dan dukungan orang tua. Respon pihak sekolah terhadap kebutuhan sarana belajar juga positif, dan perlengkapan mulai terpenuhi sedikit demi sedikit,” tambah Ihlas.
Selain menjaga pelestarian budaya, SDN 2 Banawa juga berkomitmen terhadap pendidikan inklusif.
Sekolah memberikan layanan pendidikan khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), agar mereka tetap dapat belajar dalam lingkungan yang ramah dan adaptif.
Meski menghadapi keterbatasan fasilitas, para guru di sekolah ini terus berinovasi dengan metode pembelajaran kreatif.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Pemersatu Bangsa, Revitalisasi Bahasa Daerah Jadi Agenda Penting
Mereka percaya bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga tentang membangun karakter, kemandirian, dan rasa cinta terhadap budaya sendiri.
Dengan semangat itu, SDN 2 Banawa menjadi contoh nyata bagaimana sekolah di daerah mampu menjadi benteng pelestarian bahasa dan budaya lokal, sekaligus menjamin akses pendidikan yang merata dan inklusif bagi semua siswa.
Baca berita lainnya di Google News








Komentar