Parimo Masuk PSN, Gubernur Anwar Dorong Kawasan Industri Hijau Berbasis Energi PLTA

PARIMO, theopini.id – Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) dan Morowali, Sulawesi Tengah, resmi masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan pemerintah pusat pada 14 Oktober 2024.

Penetapan tersebut, tertuang dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 12 Tahun 2024 tentang Perubahan Keenam atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2021 mengenai Daftar Proyek Strategis Nasional.

Baca Juga: Warga Siniu Keluhkan Perubahan Nama PT ATHI Menjadi PT ATS

Dalam lampiran peraturan tersebut, tercatat Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) pada nomor urut 114 dan Neo Energi Morowali Industrial Estate (NEMIE) pada nomor urut 119 sebagai bagian dari PSN.

Menindaklanjuti penetapan itu, Gubernur Sulawesi Tengah, H Anwar Hafid, menyatakan Pemerintah Provinsi mulai mempersiapkan berbagai infrastruktur pendukung guna memastikan kelancaran pengembangan kawasan industri tersebut.

Salah satu fokus utama yang saat ini dikebut, kata dia, adalah kesiapan energi sebagai fondasi kawasan industri.

“Kita akan selesaikan dulu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Banggaiba, Kabupaten Sigi. Setelah itu, baru kita bangun jaringan listrik masuk ke kawasan NEPIE di Kabupaten Parimo,” ujar Anwar Hafid di Parigi, Sabtu, 24 Januari 2026.

Anwar menjelaskan, konsep kawasan industri yang akan dibangun di Parimo berbeda dengan kawasan industri lain di Sulawesi Tengah. PSN NEPIE dirancang sebagai kawasan industri hijau yang seluruh kebutuhan energinya bersumber dari PLTA, sehingga ramah lingkungan.

Ia menyebutkan, bahan baku utama kawasan industri NEPIE berasal dari Kabupaten Morowali, khususnya material low grade yang selama ini hanya diolah setengah jadi.

“Yang setengah jadi di Morowali akan diproses di sini. Bukan hanya dari Morowali, tidak menutup kemungkinan juga dari daerah lain,” jelasnya.

Anwar menegaskan, ke depan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah tidak akan lagi memberikan izin pembangunan smelter atau industri yang tidak berorientasi pada kelestarian lingkungan.

PSN NEPIE yang berlokasi di Desa Siniu, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parimo, diharapkan menjadi contoh pengembangan kawasan industri masa depan di Sulawesi Tengah berbasis energi bersih.

“Industri hijau hanya ada di sini, karena sumber energinya dari PLTA. Ini proyek ramah lingkungan,” tegasnya.

Selain kesiapan infrastruktur dan energi, Pemprov Sulawesi Tengah juga mulai mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal agar dapat terlibat langsung dalam aktivitas industri di kawasan tersebut.

“Tahun ini kita sudah mulai melatih tenaga kerja lokal,” kata Anwar.

Ia menambahkan, Sulawesi Tengah juga akan mendapatkan pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) modern dari Kementerian Ketenagakerjaan sebagai bagian dari penguatan kompetensi tenaga kerja daerah.

Terkait potensi konflik lahan, Anwar memastikan pemerintah daerah akan menangani persoalan tersebut secara bijak agar tidak merugikan masyarakat, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi investor.

“Konflik lahan kita tangani sebaik-baiknya, supaya masyarakat tidak dirugikan dan perusahaan tetap bisa berjalan,” ujarnya.

Melalui persiapan energi, SDM, dan tata kelola lahan yang matang, Pemprov Sulawesi Tengah berharap PSN NEPIE mampu menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, sekaligus membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat lokal.

Baca Juga: PT ATHI Diminta Laporkan Perkembangan Pembangunan Kawasan Industri di Siniu

Diketahui, persiapan pembukaan kawasan industri NEPIE telah dilakukan sejak 2023 oleh PT Anugrah Tekhnik Industri (ATHI) sebagai anak perusahan PT Anugrah Neo Energy Materials (Neo Energy), dengan luasan sekitar 20 hektare di Desa Siniu. Saat ini, pembangunan kantor kawasan industri sebagai salah satu syarat keberlanjutan izin telah mulai dilakukan.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar