PARIMO, theopini.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 19 kejadian bencana hidrometeorologi terjadi di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Data tersebut, mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) mitigasi bencana hidrometeorologi, gempa bumi, dan potensi likuifaksi yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo, Rabu, 22 Juli 2026.
“Berdasarkan hasil analisis BMKG yang telah diverifikasi bersama data BPBD, sejak Januari hingga Juli 2026 tercatat sekitar 19 kejadian bencana hidrometeorologi di Kabupaten Parigi Moutong. Kejadian tersebut didominasi banjir, angin kencang, tanah longsor, dan gelombang tinggi,” ungkap Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Mutiara SIS Al-Jufri Palu, Moh. Fathan.
Menurutnya, tingginya risiko bencana tidak hanya dipengaruhi oleh curah hujan, tetapi juga tingkat kerentanan wilayah dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.
Ia mencontohkan Desa Torue yang mengalami dua kali banjir dalam satu bulan meskipun curah hujan hanya sekitar 70 milimeter.
Kondisi tersebut, menunjukkan tingginya tingkat kerentanan kawasan sehingga diperlukan penguatan sistem peringatan dini, penyediaan sarana pendukung, serta peningkatan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Fathan juga mengungkapkan hingga saat ini, Kabupaten Parimo belum memiliki stasiun meteorologi sendiri, sehingga pemantauan cuaca masih mengandalkan Stasiun Meteorologi Mutiara SIS Al-Jufri Palu.
Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana BPBD Parimo, Rivai, mengatakan FGD tersebut menjadi langkah penting memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi ancaman bencana di daerah.
“FGD ini menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman seluruh pemangku kepentingan terhadap berbagai ancaman bencana sekaligus menyusun langkah-langkah strategis dalam upaya mitigasi dan penanganannya,” ujarnya.
Rivai menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir Kabupaten Parimo menghadapi berbagai bencana, mulai dari banjir akibat cuaca ekstrem di Kecamatan Bolano dan Bolano Lambunu, banjir yang melanda 13 desa di lima kecamatan, hingga gempa bumi yang dirasakan di sejumlah wilayah.
Menurutnya, banjir mengakibatkan kerusakan sejumlah fasilitas umum, termasuk jembatan di Kecamatan Parigi Barat, merendam lahan pertanian di Desa Dolago Padang, Masari, dan Lebagu, serta berdampak pada wilayah Purwosari, Tolai Barat, Tolai Timur, dan Desa Tolai.
Selain itu, BPBD juga menangani dampak banjir di Desa Laemanta Utara, Kecamatan Kasimbar, yang menyebabkan sekitar 70 kepala keluarga kesulitan memperoleh air bersih akibat rusaknya jaringan PAMSIMAS. Bersama PMI Parimo, BPBD menyalurkan bantuan air bersih, sekaligus memperbaiki jaringan pipa yang rusak.
Dalam FGD tersebut, narasumber dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr. Supartoyo, S.T., M.T., mengungkapkan Kabupaten Parimo memiliki sejarah gempa bumi besar pada 1910 dan 1938 serta pernah mengalami likuifaksi saat gempa Magnitudo 5,8 pada 1995.
Berdasarkan data PVMBG, wilayah Sausu, Mekarsari, Baliara, Tolai, dan Torue menjadi kawasan yang perlu diprioritaskan dalam pemetaan Risiko, karena memiliki potensi terdampak likuifaksi.
FGD yang menghadirkan BMKG, Global Atmosphere Watch (GAW) Lore Lindu Bariri Palu, dan PVMBG tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan strategi mitigasi bencana yang lebih efektif sehingga mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat serta memperkuat sinergi lintas sektor dalam pengurangan risiko bencana di Kabupaten Parimo.
Baca berita lainnya di Google News
Laporan: Israwati













