PARIMO, theopini.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah memperkuat penanganan terpadu pascabencana gempa bumi dan banjir, yang melanda sejumlah wilayah dengan mengedepankan langkah mitigasi, respons cepat, dan percepatan pemulihan infrastruktur melalui kolaborasi lintas instansi.
Plt Kepala BPBD Parimo, Rivai, mengatakan upaya penanganan tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi juga telah dimulai melalui sejumlah langkah mitigasi di titik-titik rawan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu dan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah.
“Di Balinggi Jati kami telah melakukan normalisasi sungai, di Tolai dilakukan pemasangan bronjong, sementara di Toribulu dilakukan perbaikan jembatan sebagai langkah penanganan awal,” ujar Rivai saat membuka rapat peninjauan lokasi terdampak bencana di halaman Kantor BPBD Parimo, Senin, 22 Juni 2026.
Ia menjelaskan, gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026 tidak menimbulkan kerusakan berat secara luas, karena pusat gempa berada cukup jauh dari permukiman. Meski demikian, BPBD tetap mencatat adanya kerusakan pada rumah warga dan fasilitas umum.
Menurut data yang telah diverifikasi pemerintah daerah, sebanyak 92 bangunan terdampak gempa, terdiri atas satu rumah rusak berat, tiga rusak sedang, dan sisanya rusak ringan.
Selain itu, 10 fasilitas umum juga mengalami kerusakan ringan, termasuk rumah ibadah dan gedung perkantoran seperti Kantor DPRD Parimo.
Rivai menegaskan, data tersebut telah dikunci dan disampaikan ke BPBD Provinsi Sulawesi Tengah untuk proses evaluasi lebih lanjut sebagai dasar penentuan bantuan.
Sementara itu, banjir yang terjadi sehari setelah gempa juga menjadi fokus penanganan darurat pemerintah daerah. Sedikitnya 12 desa di beberapa kecamatan terdampak, dengan kerusakan utama pada infrastruktur penghubung, saluran air, serta lahan pertanian masyarakat.
BPBD Parimo mencatat kerusakan jembatan, tanggul, dan saluran air di sejumlah titik, termasuk di Desa Lobu Mandiri, Parigi Mpuu, Kayuboko, hingga wilayah Parigi Selatan dan Balinggi. Kondisi tersebut, berdampak pada akses masyarakat serta aktivitas ekonomi warga.
Dalam penanganan darurat, BPBD Parimo bersama instansi terkait segera menyalurkan bantuan logistik berupa matras, selimut, dan makanan siap saji, serta melakukan evakuasi dan penanganan warga terdampak. Seluruh warga yang sempat mengungsi kini telah kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi dinyatakan membaik.
Di sisi lain, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah turut mengerahkan alat berat untuk penanganan tanggul jebol, sementara koordinasi dengan BWS Sulawesi III Palu dilakukan untuk dukungan teknis, seperti penyediaan geobag dan perbaikan infrastruktur sungai.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Parimo, banjir merendam 402 rumah dengan total 903 jiwa terdampak, termasuk 110 jiwa yang sempat mengungsi. Selain permukiman, sekitar 230 hektare lahan pertanian, 52 hektare perkebunan, dan 30 hektare area perikanan juga terdampak.
Sementara dampak gempa bumi menyebabkan 96 bangunan terdampak dengan 323 jiwa terdampak di beberapa desa di Kecamatan Parigi, Torue, dan Parigi Selatan. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, jaringan air bersih, serta infrastruktur sosial lainnya.
Secara keseluruhan, BPBD Parimo mencatat 1.226 jiwa terdampak akibat dua bencana tersebut. Pemerintah daerah terus melakukan penanganan darurat, pemulihan infrastruktur, serta penguatan mitigasi untuk meminimalkan dampak bencana susulan di wilayah Parimo.
Baca berita lainnya di Google News












