PARIMO, theopini.id – Dinas Ketahanan Pangan Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah terus mendorong penguatan ketahanan pangan keluarga melalui program pembagian bibit dan gerakan menanam di pekarangan rumah.
Program tersebut, sekaligus diarahkan sebagai salah satu upaya pengendalian inflasi, khususnya untuk menjaga ketersediaan komoditas cabai yang harganya cenderung berfluktuasi.
“Program peningkatan ketahanan pangan keluarga ini merupakan program rutin yang setiap tahun kami laksanakan. Kami menyiapkan bibit cabai, terung dan tomat untuk dibagikan kepada masyarakat,” kata Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Parimo, Rahmatia, saat ditemui di ruang kerjanya, Jum’at, 21 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, program tersebut dilaksanakan secara bertahap setiap triwulan. Pada triwulan pertama, pihaknya menyiapkan sebanyak 5.000 bibit yang terdiri atas 3.000 bibit cabai, 1.000 bibit tomat dan 1.000 bibit terung.
Memasuki tahap berikutnya, Dinas Ketahanan Pangan Parimo kembali menyiapkan sekitar 4.000 bibit.
Namun, kondisi cuaca panas menyebabkan sebagian bibit gagal tumbuh sehingga jumlah yang dapat dibagikan kepada masyarakat hanya sekitar 3.000 bibit.
“Untuk triwulan tiga ini hanya dua komoditas, yaitu terung dan cabai. Untuk tomat tidak ada,” ujarnya.
Sementara pada pembagian bibit yang dilaksanakan Jum’at, 21 Agustus 2026, sekitar 2.000 bibit disiapkan untuk masyarakat.
Sebanyak 50 kepala keluarga tercatat sebagai penerima, dengan masing-masing mendapatkan 20 polybag bibit.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari inovasi ketahanan pangan yang melibatkan staf P3K pada bidang distribusi dan cadangan pangan.
Melalui inovasi tersebut, para staf PPPK diarahkan memanfaatkan waktu kerja setelah apel pagi untuk melakukan kegiatan produktif di lingkungan kantor, seperti pembibitan, penanaman dan perawatan tanaman.
“Setiap hari setelah apel pagi, mereka bekerja selama satu jam di lapangan untuk melaksanakan program inovasi ketahanan pangan ASN. Setelah itu mereka masuk kembali ke ruangan dan bekerja sesuai tugas masing-masing,” jelasnya.
Selain kegiatan budidaya tanaman, para staf juga tetap menjalankan tugas dan fungsi masing-masing, termasuk mengelola data informasi harga pangan di sejumlah pasar yang dijadikan sampel serta data penggilingan dan pendistribusian beras ke luar daerah.
Rahmatia mengatakan, inovasi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas ASN, tetapi juga mendorong masyarakat agar ikut memanfaatkan lahan pekarangan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga.
“Capaian yang ingin kami capai adalah kegiatan ini menjadi bagian dari pengendalian inflasi. Harga cabai hampir setiap saat dan setiap tahun tidak stabil. Karena itu kami mendorong masyarakat untuk melakukan penanaman di pekarangan,” katanya.
Ia mengajak masyarakat menjadikan pekarangan rumah sebagai “lumbung hidup” untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Salah satu yang didorong, adalah menanam sedikitnya 10 polybag cabai di setiap rumah tangga.
Dinas Ketahanan Pangan Parimo, kata dia, sejauh ini memprioritaskan penyediaan bibit siap tanam. Sementara untuk media tanam, masyarakat dapat memanfaatkan bahan bekas yang tersedia di rumah.
“Kami hanya bisa menyiapkan dalam bentuk bibit hidup yang siap ditanam. Kalau tidak ada polybag, masyarakat bisa menggunakan karung bekas, seperti karung beras lima kilogram atau karung semen sebagai media tanam,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News













