JAKARTA, theopini.id – Ketimpangan akses layanan kesehatan dan minimnya tenaga medis di berbagai daerah memaksa pemerintah bergerak cepat.
Sebagai respons, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) membentuk Komite Bersama (KOMBERS) untuk mendorong reformasi sistem pendidikan, riset, dan layanan kesehatan nasional.
Baca Juga: Menhub Dukung Kemenkes Cek Kesehatan Pengemudi Transportasi Online
“Kalau masyarakat Sukabumi atau Semarang masih harus ke Jakarta untuk layanan jantung, itu artinya sistem kita belum adil dan merata,” ujar Menteri Kesehatan (Mendes) Budi Gunadi Sadikin dalam peluncuran KOMBERS di Jakarta, Senin, 30 Juli 2025.
Ia menyoroti terkait baru sekitar 80 daerah yang memiliki layanan penyakit katastropik sekelas ibu kota dari 514 kabupaten/kota.
Kondisi ini, menunjukkan krisis pemerataan layanan, khususnya dalam menangani penyakit prioritas seperti stroke dan jantung.
Untuk menjawab kesenjangan tersebut, pemerintah tengah membangun dan memperkuat 66 RSUD di berbagai daerah serta melengkapi infrastruktur dasar dengan alat kesehatan esensial, seperti CT scan dan cath lab.
“Kalau alat-alat ini hanya ada di kota besar, seumur hidup kita tidak akan pernah bisa memberi layanan setara untuk seluruh rakyat,” tegasnya.
Namun, pembangunan infrastruktur dan revisi skema pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak cukup.
Tantangan paling mendasar, menurut Menkes Budi, terletak pada jumlah dan distribusi tenaga medis, terutama dokter spesialis.
“Alatnya siap, pembiayaannya siap, tapi kalau SDM-nya tidak ada atau tidak merata, rakyat tetap kesulitan,” tambahnya.
KOMBERS hadir sebagai forum koordinasi untuk mempercepat produksi tenaga kesehatan dan memperkuat ekosistem pendidikan, riset, serta layanan berbasis kebutuhan nyata.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof Brian Yuliarto menegaskan, tantangan di sektor kesehatan tidak bisa diselesaikan secara sektoral.
“Kita perlu duduk bersama, mengesampingkan ego sektoral, dan fokus pada solusi yang konkret dan segera bisa dijalankan,” katanya.
Ia menekankan, pendidikan tenaga kesehatan harus dikembangkan lintas disiplin dan menjawab kebutuhan riil masyarakat, tak terbatas pada fakultas kedokteran semata.
“Permasalahan kesehatan itu kompleks. Para peneliti dari berbagai bidang harus ikut mencarikan solusi, dari teknologi, manajemen, hingga kebijakan publik,” jelasnya.
Kemendiktisaintek sendiri tengah menyusun strategi peningkatan kapasitas pendidikan dokter spesialis sebagai bagian dari percepatan reformasi.
Baca Juga: Bupati Banggai Sambut Kedatangan Menkes Bersama Rombongan
KOMBERS diharapkan menjadi motor integrasi kebijakan pendidikan dan kesehatan untuk membangun sistem yang inklusif, efektif, dan bermartabat.
“Peluncuran Komite Bersama ini adalah langkah awal. Gotong royong semua pihak akan jadi kunci utama membenahi sistem kesehatan kita,” pungkasnya.
Baca berita lainnya di Google News















