PARIMO, theopini.id – Ketua Pembina Posyandu Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, Hj. Hestiwati Nanga, mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap penderita kusta dan tuberkulosis (TBC).
Menurutnya, diskriminasi justru dapat menghambat upaya pengobatan dan penemuan kasus, padahal pasien yang menjalani pengobatan sesuai ketentuan memiliki risiko penularan yang jauh lebih rendah.
“Kalau ada masyarakat yang menderita kusta maupun TBC, tolong jangan dijauhi. Mereka yang sudah menjalani pengobatan sesuai anjuran tidak lagi menjadi sumber penularan seperti yang selama ini dikhawatirkan masyarakat,” ujar Hestiwati saat memberikan sambutan pada kegiatan Soft Launching Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Desa Masari, Kecamatan Parigi Selatan, belum lama ini.
Ia mengatakan, keberhasilan penanganan penyakit menular tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga dukungan masyarakat untuk menghapus stigma terhadap para penyintas.
Menurutnya, rasa takut dan perlakuan diskriminatif sering kali membuat penderita enggan memeriksakan diri maupun melanjutkan pengobatan.
Ia juga mengungkapkan, Kabupaten Parimo menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait capaian penemuan kasus penyakit prioritas yang masih perlu ditingkatkan.
“Beberapa waktu lalu Kabupaten Parimo diundang dalam pertemuan bersama Kemenkes karena capaian penemuan kasus masih perlu ditingkatkan. Ini menjadi perhatian kita bersama agar kegiatan surveilans dan skrining semakin aktif,” katanya.
Selain menghilangkan stigma, Hestiwati meminta tenaga kesehatan memperkuat upaya deteksi dini melalui skrining serta meningkatkan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Ia menyoroti masih rendahnya cakupan pelayanan hipertensi yang baru mencapai sekitar 27 persen. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih banyak sasaran yang belum terlayani secara optimal.
“Kalau implementasi Posyandu berjalan dengan baik, saya yakin capaian indikator kesehatan juga akan meningkat. Karena itu, petugas kesehatan bersama kader harus aktif menjangkau masyarakat, bukan hanya menunggu masyarakat datang ke Posyandu,” ujarnya.
Ia menilai peran kader Posyandu sangat strategis dalam mendukung upaya promotif dan preventif, termasuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan penyakit, pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta menghilangkan stigma terhadap penderita penyakit menular.
Hestiwati menyebut, Kabupaten Parimo saat ini memiliki sekitar 4.700 kader Posyandu yang tersebar di 472 Posyandu. Menurutnya, jumlah tersebut menjadi modal besar untuk memperkuat edukasi kesehatan hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
“Kader adalah ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat. Mereka yang paling dekat dengan warga sehingga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi sekaligus mendampingi masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan,” tuturnya.
Ia berharap kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa, dan masyarakat dapat meningkatkan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini, sekaligus menghapus stigma terhadap penderita kusta maupun TBC, sehingga target penemuan kasus dan pengobatan di Kabupaten Parimo dapat tercapai.
Baca berita lainnya di Google News














