PARIMO, theopini.id – Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DisKopUKM) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah menyiapkan program pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat Komunitas Adat Terpencil (KAT).
Pemberdayaan tersebut, dilakukan melalui pelatihan pengolahan pangan berbasis potensi lokal. Program ini, ditargetkan membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan nilai tambah produk masyarakat.
“DisKopUKM terlibat untuk pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan kreativitas masyarakat KAT dalam olahan pangan,” ujar Sekretaris DisKopUKM Kabupaten Parimo, Sulastri, Senin, 24 Agustus 2026.
Ia mengatakan, program tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada Oktober 2026 dengan menyasar masyarakat KAT di Kecamatan Tinombo, Palasa dan Tomini.
Menurutnya, sebelum pelatihan digelar, DisKopUKM Parimo terlebih dahulu akan mengidentifikasi potensi masing-masing wilayah. Identifikasi mencakup bahan baku yang tersedia dan melimpah di tengah masyarakat.
Potensi tersebut, akan menjadi dasar dalam menentukan jenis olahan pangan yang sesuai untuk dikembangkan melalui pelatihan.
“Paling tidak kita lihat dulu di daerah KAT itu, seperti Palasa, apa olahan pangan dan bahan baku apa yang melimpah di sana. Nanti yang kita latih ke mereka,” jelasnya.
Sulastri mengatakan, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat. DisKopUKM Parimo juga telah mengusulkan bantuan peralatan, agar keterampilan yang diperoleh dapat langsung dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.
“Bukan cuma dilatih, kita langsung mau kasih bantuan,” katanya.
Namun, realisasi bantuan peralatan masih menunggu kepastian dukungan anggaran. Sulastri menyebutkan, usulan bantuan telah disampaikan dan pihaknya masih menunggu keputusan terkait ketersediaan anggaran.
Program pemberdayaan masyarakat KAT tersebut, juga akan dilaksanakan secara kolaboratif dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Masing-masing OPD, kata dia, memiliki peran sesuai bidangnya dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat KAT.
Sulastri menegaskan, pelatihan pengolahan pangan diarahkan untuk menciptakan peluang ekonomi dengan memanfaatkan potensi yang sudah tersedia di lingkungan masyarakat.
“Program ini, goals-nya adalah peningkatan ekonomi,” ujarnya.
Ia berharap, pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan keterampilan semata. Masyarakat KAT diharapkan, mampu mengembangkan hasil pelatihan menjadi aktivitas usaha yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian keluarga.
Baca berita lainnya di Google News














