PARIMO, theopini.id – 47 kasus kusta yang ditemukan sepanjang 2026, menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah.
Penemuan kasus tersebut, mendorong penguatan deteksi aktif di masyarakat agar penderita dapat ditemukan dan ditangani lebih cepat, sekaligus menekan risiko penularan dan mencegah kecacatan.
Penguatan itu, dilakukan melalui On The Job Training (OJT) pelaksanaan Active Case Finding (ACF) dan kemoprofilaksis kusta yang diikuti petugas Puskesmas dan kader kesehatan pada 15–16 September 2026.
Plt. Kepala Dinkes Parimo, Darlin mengatakan, peningkatan kapasitas petugas dan kader diperlukan untuk memperkuat kemampuan deteksi dini, penanganan, hingga pelaporan kasus.
“Melalui pelatihan ini, saya berharap seluruh peserta dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam mendeteksi, mendiagnosis, menangani, serta melakukan pelaporan kasus kusta dan frambusia secara tepat dan terintegrasi,” ujar Darlin, Selasa, 15 September 2026.
Ia mengungkapkan, dari 47 kasus kusta yang ditemukan sepanjang 2026, sebanyak delapan kasus merupakan tipe PB dan 39 kasus tipe MB.
Menurutnya, temuan ini menunjukkan penemuan kasus secara dini perlu terus diperkuat. Upaya tersebut, tidak hanya dilakukan dengan menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga melalui penelusuran secara aktif terhadap kelompok yang menjadi sasaran.
“Data tersebut menjadi pengingat bagi kita semua bahwa upaya penemuan kasus secara dini, tata laksana yang tepat, pelacakan kontak erat, serta edukasi kepada masyarakat harus terus diperkuat,” jelasnya.
Melalui pendekatan ACF, petugas kesehatan bersama kader didorong melakukan penelusuran dan pemeriksaan secara aktif di masyarakat.
Upaya itu, mencakup identifikasi kontak erat penderita, edukasi kepada keluarga dan masyarakat, serta pengenalan tanda-tanda kusta.
Salah satu tanda yang perlu dikenali adalah bercak pada kulit yang mengalami mati rasa. Warga yang dicurigai mengalami kusta kemudian diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut di Puskesmas.
Selain penemuan kasus, kegiatan OJT juga memperkuat pemahaman mengenai kemoprofilaksis sebagai salah satu upaya pencegahan penularan pada kontak yang memenuhi kriteria.
Darlin menilai peran kader penting dalam memperluas jangkauan deteksi karena kader berada dekat dengan masyarakat.
Kader diharapkan mampu menyampaikan informasi mengenai kusta dengan bahasa yang mudah dipahami, sekaligus mendorong masyarakat tidak takut melakukan pemeriksaan.
Ia juga menekankan pentingnya pelayanan yang manusiawi, dan tidak diskriminatif bagi penderita kusta maupun keluarganya.
Edukasi secara berkelanjutan diperlukan, untuk mengurangi stigma yang dapat menjadi hambatan dalam penemuan dan pengobatan kasus.
“Edukasi dan pendekatan yang baik kepada masyarakat merupakan bagian penting dalam keberhasilan program kesehatan,” katanya.
Kegiatan OJT tersebut, sekaligus menjadi momentum memperkuat koordinasi antara Dinkes, Puskesmas, kader kesehatan dan unsur terkait dalam pelaksanaan penemuan kasus aktif serta pencegahan kusta di masyarakat.
Dengan meningkatnya kapasitas petugas dan kader, penemuan kasus diharapkan dapat dilakukan lebih cepat sehingga pengobatan diberikan secara tepat dan tuntas, serta risiko penularan dan kecacatan akibat kusta dapat ditekan.
Upaya tersebut, menjadi bagian dari komitmen Dinkes Parimo dalam mendukung target eliminasi kusta, sekaligus mewujudkan masyarakat yang semakin bebas dari kusta dan stigma.
Baca berita lainnya di Google News













