Generasi Muda Toili Ikut Lestarikan Kuda Lumping di Desa Tirtasari

BANGGAI, theopini.id – Keterlibatan generasi muda dalam Gebyag Kuda Lumping di Desa Tirtasari, Kecamatan Toili, mendapat apresiasi Bupati Banggai, Sulawesi Tengah, H Amirudin.

Ia menilai, semangat anak-anak muda ikut memainkan gamelan hingga menari menjadi tanda bahwa tradisi tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: FORNAS VIII Jadi Katalis Ekonomi dan Budaya, Sulteng Siap Lanjutkan Dampak Positif di 2027

“Saya senang karena ada anak muda yang bisa main gamelan. Ini menandakan tradisi tidak hanya dijaga orang tua, tapi juga diwariskan ke generasi penerus,” ujar Bupati Amirudin saat membuka Gebyag Kuda Lumping yang digelar warga Dusun 3 Desa Tirtasari dalam rangka memeriahkan HUT ke-80 RI, Rabu malam, 20 Agustus 2025.

BACA JUGA:  Gubernur Sulteng Lantik 12 Pejabat Tinggi Pratama, Berikut Nama-namanya

Menurutnya, seni tari kuda lumping merupakan kekayaan bangsa yang perlu terus dijaga, terlebih jika dilaksanakan dalam momentum Hari Kemerdekaan.

“Ini adalah budaya kita yang harus terus kita pertahankan, karena ini merupakan kekayaan kita sebagai Bangsa Indonesia, apalagi diadakan pada momen 17 Agustus seperti ini,” tambahnya.

Bupati Amirudin berharap tradisi ini dapat dikembangkan lebih luas melalui festival seni budaya. “Kita buat festivalnya, misalnya di hari ulang tahun kecamatan, atau kita tampilkan di Festival Teluk Lalong,” katanya.

Putra (18), warga Desa Tirtasari, mengaku datang untuk mencari hiburan sekaligus melihat pertunjukan tradisi yang sudah biasa digelar di Toili.

“Di sini, tiap ada hajatan, ada pertunjukan kuda lumping. Tergantung yang punya hajatan,” ujarnya. Ia juga berharap ada wadah khusus bagi anak-anak muda agar bisa menyalurkan bakat dan melanjutkan tradisi ini. “Kalau ada wadahnya, kita pasti semangat,” tambahnya.

BACA JUGA:  Festival Teluk Lalong 2025, Wujud Komitmen Banggai Bangkitkan Pariwisata Lokal

Baca Juga: Batik Banava Tampil di JFW 2025: Diplomasi Budaya Sulteng di Panggung Nasional

Malam itu, para penari dari usia anak-anak hingga dewasa tampil membawakan gerakan khas kuda lumping dengan diiringi tabuhan gendang, gamelan, dan suara sinden.

Meski sarat dengan nuansa mistis, pertunjukan kali ini telah mengalami adaptasi, di mana sebagian penampil memilih mengurangi unsur mistis dan lebih menonjolkan koreografi serta nilai budaya.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar