KENDARI, theopini.id – Menteri Ekonomi Kreatif (Menkraf) Teuku Riefky Harsya menegaskan, pentingnya peran Sekolah Rakyat dalam menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
“Sekolah Rakyat hadir sebagai wujud nyata pemerataan akses pendidikan berkualitas di daerah. Pendidikan dan kreativitas harus berjalan beriringan untuk membentuk generasi yang lebih mandiri dan adaptif,” ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky saat meninjau langsung Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 25 Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa, 26 Agustus 2025.
Baca Juga: Wagub Sulteng Targetkan Sertifikat Lahan Sekolah Rakyat Rampung Sebelum 17 Agustus
Menurutnya, Kementerian Ekraf mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini karena diyakini menjadi pondasi pembangunan bangsa.
“Masa depan ekonomi bangsa ada di tangan generasi muda yang kreatif. Dunia kreatif begitu luas, mulai dari film, musik, kuliner, aplikasi, gim, kerajinan, hingga desain. Tugas kita bersama adalah menyiapkan anak-anak agar percaya diri, disiplin, dan terbuka terhadap peluang baru,” tambahnya.
Kunjungan ini, juga membuka peluang kolaborasi Sekolah Rakyat dengan program Kemenparekraf, yakni Talenta Ekraf yang fokus pada peningkatan kapabilitas sumber daya manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Teuku Riefky turut menyerahkan bingkisan untuk siswa dan tenaga pendidik, serta menyampaikan apresiasinya atas dedikasi guru dan relawan.
“Di sini, peran guru, pengurus, sekaligus orang tua menjadi sangat strategis. Guru bukan hanya mengajar, melainkan teladan yang menumbuhkan keberanian siswa untuk bermimpi besar. Orang tua pun berperan penting menciptakan suasana rumah yang mendukung, menanamkan kejujuran, kerja keras, dan semangat pantang menyerah,” ucapnya.
Baca Juga: Pembangunan 50 Sekolah Rakyat Capai 60,93%, Ditarget Rampung Akhir Agustus
SRMP 25 Kendari merupakan sekolah berbasis asrama yang didukung Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Meohai.
Sekolah ini resmi beroperasi 14 Juli 2025 dengan jumlah 50 siswa, terdiri dari 30 laki-laki dan 20 perempuan, seluruhnya berasal dari keluarga kategori miskin ekstrem (desil 1 dan desil 2). Semua kebutuhan siswa ditanggung oleh negara.
Baca berita lainnya di Google News








Komentar