POSO, theopini.id — Investigasi ilmiah di Desa Sulewana, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah memasuki babak krusial, setelah tiga pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menuntaskan pengambilan sampel selama dua hari.
Fokus utama mereka bukan hanya memotret kerusakan rumah warga, tetapi memastikan apakah dinamika tanah di permukiman memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas PLTA Poso.
“Kami hadir untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran. Kami tidak terafiliasi kepentingan mana pun, kecuali pada fakta di lapangan,” ujar Dr. Teguh Purnama Sidiq, ahli geodesi ITB, dalam keterangan resminya, Jum’at, 21 November 2025.
Baca Juga: Satgas PKA Desak PT Poso Energy Segera Perbaiki 25 Rumah Warga yang Retak
Sebelum turun lapangan, tim bertemu pemerintah Desa Sulewana untuk menjelaskan tujuan investigasi. Setelah itu, ketiganya Dr. Rendy Dwi Kartiko (Geologi), Dr. Teguh Purnama Sidiq (Geodesi), dan Inzagi Suhendar (FTTM), melakukan pengambilan sampel maraton mulai getaran, batuan, hingga pengukuran struktur rumah.
Inzagi merekam getaran dari outlet PLTA Poso 1 dan 2 di sembilan titik, termasuk lima titik di area permukiman. Data ini digunakan untuk menghitung besaran ground vibration yang mungkin memicu kerusakan bangunan.
Pada sisi lain, Dr. Teguh menelusuri indikasi pergeseran atau penurunan tanah menggunakan metode geodesi, termasuk kemungkinan korelasinya dengan aktivitas PLTA.
Sementara itu, Dr. Rendy mengunjungi 28 rumah warga yang mengalami kerusakan. Ia mencatat pola retakan, kondisi tanah, serta mewawancarai langsung warga, termasuk Malvin Baduga, pemilik rumah yang berjarak 66 meter dari sungai.
“Rumah saya sudah turun sejak 2007. Pernah diperbaiki tahun 2014, tapi setahun kemudian amblas lagi sampai 40 cm,” kata Malvin.
Warga lainnya, Novi Badjadji, yang rumahnya hanya 21,7 meter dari bibir sungai, mengungkap kekhawatiran mendalam.
“Sebelum kehadiran PLTA, tanah di sekitar rumah saya tampak solid. Sekarang kalau hujan sedikit saya waswas, takut runtuh,” tuturnya.
Di pihak lain, PT Poso Energy bersikukuh kerusakan tidak disebabkan oleh aktivitas PLTA. Merujuk dokumen DLH Poso, perusahaan menyampaikan debit alami Sungai Poso mencapai 531 m³, sementara PLTA hanya melepaskan 228–230 m³ dari batas regulasi 510 m³.
Perusahaan juga menyebut kemiringan ekstrem vegetasi di sempadan sungai sebagai indikasi kuat, bahwa kerusakan berasal dari faktor alami.
Ketua Satgas PKA Sulawesi Tengah, Eva Susanti Bande, mempertanyakan langsung warga terdampak, termasuk Dimas Tenggeli, pemilik rumah rusak berat.
“Terus terang saja Pak Dimas, sudah pernah menerima bantuan dari Poso Energy atau belum?” tanya Eva.
Baca Juga: Satgas PKA Sulteng Ungkap Tumpang Tindih Lahan, Dorong Tata Kelola Agraria yang Transparan
Setelah sempat ragu, Dimas mengaku menerima bantuan Rp10 juta untuk memperbaiki lantai rumahnya.
“Tapi sekarang lantainya rusak lagi, ambles lagi,” ujarnya.
Eva menegaskan, kondisi ini menunjukkan kewajiban perusahaan belum selesai. “Tanggung jawab perusahaan tidak berakhir di gerbang powerhouse. Perbaikan rumah warga semestinya dipenuhi sebelum kita bicara soal data teknis,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, tim ITB bersama Satgas PKA dan Poso Energy akan melakukan pengeboran inti sedalam 20 meter untuk menguji kekuatan geoteknik bawah permukaan. Pengeboran dijadwalkan bersamaan atau setelah kedatangan gelombang kedua tim pakar ITB pada akhir November.
Baca berita lainnya di Google News








Komentar