Di tengah banjir bandang Avolua, sebuah keluarga berkali-kali menerjang arus demi menyelamatkan orang-orang yang mereka cintai.
Laporan: Novita Ramadhan
“Seperti ada firasat, akan terjadi banjir besar. Hujan dari jam 8 malam tidak berhenti-berhenti. Saya gelisah. Jadi susah tidur,” ungkap Elo (67), warga penyintas banjir bandang di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Begitulah cerita pembuka Elo ketika saya menemuinya di teras rumah. Ia duduk di atas kursi kayu usang yang belum sempat dibersihkan dari lumpur akibat banjir. Di sampingnya, kedua anaknya, Retno (30) dan Moh. Amil (25).
Matanya sembap. Suaranya berat. Tak ada senyum di wajahnya.
Selasa malam, 25 Agustus 2026, sebelum banjir bandang menerjang, Elo berada di sebuah pondok kayu tepat di belakang rumah bersama istrinya, Simin (67). Namun, kegelisahan membuatnya beranjak dari tempat tidur dan menuju rumah utama.
Ia menerjang hujan dan gelap malam untuk membangunkan anak-anaknya.
Di usia 67 tahun, langkah Elo tak lagi sekuat lelaki muda. Namun malam itu, ia memaksa tubuhnya menembus hujan demi memastikan anak, cucu, dan menantunya dalam keadaan aman.
Elo benar-benar khawatir. Jika firasatnya benar, ia takut tak mampu menyelamatkan mereka yang sedang tertidur pulas.
“Saya mondar-mandir di dalam rumah. Saya coba bangunkan anak saya, Retno, yang tidur dengan cucu saya Alfin (7). Setelah itu, saya ke teras depan, mau lihat situasi di luar,” kata dia.
Ternyata, malam itu firasat Elo bukan sekadar kegelisahan.
Sekitar pukul 01.00 WITA, Rabu, 26 Agustus 2026, suara gemuruh tiba-tiba terdengar. Deras air bercampur lumpur datang menerjang. Kayu-kayu ikut terseret arus.
Dari teras, Elo menyaksikan gelombang air berlumpur bercampur material kayu menerjang di hadapannya. Panik, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah. Ia ingin menyelamatkan diri dan keluarganya melalui pintu belakang.
“Air dan kayu langsung datang. Saya lari ke dalam rumah, karena sudah bingung mau ke mana. Tidak ada lagi yang saya ingat, pikiran sudah bercampur aduk, antara menyelamatkan diri dan bagaimana nasib anak dan cucuku,” ujarnya dengan suara terisak.
Elo tiba-tiba terdiam. Ceritanya terhenti sampai di situ. Sepertinya, kejadian itu masih terlalu berat untuk diceritakan kembali.
Sepanjang percakapan kami, tak jarang Elo mengusap matanya yang sembap dengan lengan baju lusuh yang dikenakannya.
Retno yang duduk tak jauh darinya kemudian mengambil alih cerita. Dengan suara lebih tenang, ia melanjutkan kisah dini hari ketika banjir bandang menerjang rumah mereka.
“Waktu papaku datang membangunkan, saya belum tidur. Lalu papa keluar di teras rumah, saya sempat mengintip ke jendela melihat ke luar rumah. Saya kira hanya banjir biasa, air lewat,” lanjut Retno.
Saat hendak merebahkan tubuh di kasur, Retno mendengar suara gemuruh. Air bercampur lumpur berwarna cokelat pekat mulai masuk dan membanjiri seisi kamar.
Ia bergegas bangun, meraih dan menggendong anaknya, Alfin, lalu membawanya keluar kamar untuk menyelamatkan diri.
Setelah tiba di ruang tengah, Retno membangunkan adiknya, Moh. Amil, yang tertidur lelap bersama istrinya, Eva (23), dan anak mereka, Faiz (2), di kamar sebelah.
Kepanikan pecah. Semua bergerak cepat. Retno menggendong Alfin. Moh. Amil menggendong Faiz sambil menggenggam tangan istrinya, Eva.
Mereka menerobos derasnya banjir menuju pondok kayu tempat Simin, ibu mereka, tidur. Saat itu, mereka belum menyadari Elo, bapaknya, tidak ada dalam rombongan.
“Di pondok waktu itu, banjir sudah mulai tinggi, air sampai dada orang dewasa. Tiba di sana, saya berteriak memanggil mama, supaya bangun,” kata Retno.
Retno menatap ke arah gunung di sebelah barat. Dari sana, ia melihat gelombang air besar datang menuju mereka. Ia meminta seluruh keluarganya segera meninggalkan pondok.
“Saya lihat daun-daun pohon kelapa yang dilewati gelombang melandai semua. Besar berarti air kemarin ini. Saya bilang jangan kita di sini, harus pindah,” ujarnya.
Banjir menerjang dari sisi utara dan barat. Di tengah kepungan air, Retno dan keluarganya berlari ke arah selatan, menuju Kantor Balai Desa Avolua yang berjarak sekitar 150 Meter dari pondok di halaman belakang rumah mereka.
Namun, jalan menuju selatan terhalang pagar kawat berduri yang menjadi pembatas lahan mereka dengan tetangga. Mereka tak bisa melewatinya dan terpaksa kembali ke depan rumah.
“Pagar kawat ini tinggi. Membentang dari utara ke barat, dari batas rumah depan sampai di kaki gunung. Tidak bisa dipanjat. Jadi terpaksa harus kembali ke depan rumah, lewat jalan Trans Sulawesi. Kami berpegangan di kawat duri, agar tidak terbawa arus,” imbuh Retno sambil menunjuk pagar kawat berduri yang telah roboh disapu banjir bandang.
Saat sampai di depan jalan, Retno dan keluarganya tertolong sebuah mobil pikap bermuatan kopra yang berhenti di Jalan Trans Sulawesi, tepat di depan rumah mereka. Material kayu yang terbawa arus tersangkut pada mobil itu.
Mereka pun bisa melanjutkan perjalanan tanpa terhalang material kayu menuju Balai Desa. Di tengah perjalanan, Simin menyadari suaminya tidak bersama mereka.
“Air sudah sampai di dadaku, kita jalan terus. Untungnya tidak ada kayu yang menghantam kaki kami, kalau terjadi pasti kami hanyut. Pas lagi jalan ini, mamaku sadar tidak ada papa,” kata dia.
Simin meminta Retno kembali ke rumah untuk mencari dan menyelamatkan ayahnya, Elo.
Retno belum sempat mengantarkan keluarganya sampai ke Balai Desa. Tanpa berpikir panjang, ia menitipkan Alfin kepada ibunya dan kembali ke rumah.
Dengan sekuat tenaga, ia melawan derasnya arus banjir yang pekat bercampur lumpur. Di pikirannya hanya satu: semoga bapaknya masih selamat.
Setibanya di halaman rumah, Retno menemukan bapaknya di samping dinding MCK. Kakinya terjepit material banjir dan terendam lumpur. Elo tak mampu bergerak untuk menyelamatkan diri.
Retno langsung mengangkat dan membawa bapaknya menuju Balai Desa.
“Kalau saja saya antar sampai di Balai Desa mama, anakku waktu itu, mungkin papa tidak selamat. Saat saya temukan, papa bilang, sudah mau mati saya ini, Nak. Jadi saya jawab, tidak Papa, ada saya,” ujarnya dengan nada pelan.
Namun kali ini mereka tidak melalui rute sebelumnya. Untungnya, pagar kawat berduri sudah roboh tersapu banjir, sehingga Retno dan Elo bisa menuju Balai Desa melalui halaman rumah tetangga.
Setelah menyelamatkan ayahnya, Retno tiba-tiba teringat kakak perempuannya, Suriana (36), iparnya, Muh. Asfar (40), dan keponakannya, Muhammad Agif Alfaru (14), yang berada di kios sekaligus tempat tinggal mereka.
Kios itu berdiri di atas lahan yang sama dengan rumah utama dan pondok kayu yang ditinggali Elo dan istrinya, Retno bersama anaknya, serta Moh. Amil bersama keluarganya.
Retno memutuskan untuk kembali, lagi-lagi menerjang dan melawan arus banjir.
Orang pertama yang ditemukannya adalah Asfar, iparnya. Ia berdiri membeku di depan kios, memandangi barang dagangannya yang hanyut terbawa banjir. Ia bahkan belum membangunkan anak dan istrinya yang masih tertidur di dalam.
“Dia seperti halusinasi. Membeku, hanya dia lihat jualnya hanyut. Jadi saya panggil, saya bilang kenapa kau tidak kasih bangun istrimu. Sana kayu mau datang, bisa hancur kiosmu ini,” kata Retno dengan nada menegangkan.
Ia kemudian memutar ke belakang kios dan membangunkan kakak serta keponakannya yang sedang pulas tertidur. Beruntung, usahanya berhasil. Mereka terbangun dan segera pergi menyelamatkan diri.
“Syukurnya, kayu yang dari atas tidak turun menghantam kiosnya kakakku. Karena ada tembok di belakang, jadi material banjir tersangkut di situ. Belum roboh waktu saya datang, sekarang sudah roboh, kalau lambat, tidak tahu apa yang terjadi,” kata Retno penuh syukur.
Setelah memastikan seluruh keluarganya selamat, Retno tak lagi memikirkan harta benda yang hanyut bersama banjir.
“Yang penting kami semua selamat. Harta bisa dicari, nyawa keluarga yang hilang meninggalkan penyesalan,” imbuh Retno.
Cerita Retno berhenti sampai di situ. Tetapi, di tengah banjir yang belum surut, perjuangan keluarga itu belum berakhir.
“Saya juga menyusul Retno. Ingin membantu orang yang membutuhkan pertolongan,” kata Amil menimpali Retno yang telah menyudahi ceritanya.
Waktu itu, Amil kembali menuju rumahnya. Tiba di sana, ia menaiki material kayu yang telah berserakan di berbagai titik di tengah banjir. Tak sengaja, ia melihat seorang ibu dan dua anak laki-laki yang ternyata kembar, berusia sekitar 7 tahun.
Mereka terjebak di teras rumah yang atapnya telah roboh. Melihat kondisi itu, Amil bergegas memberikan pertolongan. Ia berjalan di atas material kayu hingga sampai ke tempat ibu dan kedua anak itu berdiri.
Amil lebih dulu menolong kedua anak tersebut. Ia menggendong keduanya dan memindahkan mereka ke lokasi yang lebih aman. Setelah itu, ia kembali menolong ibu mereka.
“Pas saya lihat mereka, baru saya ingat tidak ada suaminya ibu itu, lagi keluar. Makanya saya langsung tolong. Saya gendong anaknya. Saya bilang mamanya, tunggu sini, saya bawa dulu anakmu. Habis itu, saya kembali menolong dia,” ujar Amil dengan penuh haru.
Saya mendengar rentetan kesaksian para penyintas banjir bandang itu dengan perasaan terenyuh. Di tengah derasnya arus, lumpur, dan material kayu, mereka tetap memikirkan keselamatan orang lain.
Dini hari itu, Elo dan anak-anaknya kehilangan hampir seluruh harta benda mereka. Rumah, kios, dan barang dagangan tak lagi utuh.
Namun, mereka masih memiliki satu sama lain.
Dan mungkin, itulah yang membuat Retno berkali-kali kembali ke tengah banjir: memastikan tak seorang pun dari keluarganya tertinggal.
Baca berita lainnya di Google News














