Bupati Erwin Pastikan Pemulihan Pascabencana Jadi Fokus Pemda Parimo

PARIMO, theopini.id – Bupati Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, H. Erwin Burase, memastikan, pemulihan pascabanjir dan gempa bumi kini menjadi fokus utama Pemerintah Daerah (Pemda).

Setelah masa tanggap darurat berjalan, pemerintah daerah memprioritaskan perbaikan infrastruktur, pemulihan lahan pertanian, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

“Alhamdulillah masyarakat yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah. Saat ini yang perlu dimaksimalkan adalah pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi munculnya penyakit pascabanjir, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,” kata Erwin ditemui di sela-sela peninjauan lokasi bencana banjir, Senin, 22 Juni 2026.

Selain memperkuat layanan kesehatan, Pemda Parimo juga memprioritaskan penyediaan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Pemda Parimo pun telah berkoordinasi dengan PMI, untuk menyiapkan tangki dan penampungan air, guna memenuhi kebutuhan warga.

Berdasarkan data BPBD Parimo, banjir berdampak pada 402 Kepala Keluarga (KK) atau 903 jiwa yang tersebar di Kecamatan Parigi, Parigi Barat, Parigi Selatan, Torue, dan Balinggi.

Sebanyak 110 jiwa dari 57 KK sempat mengungsi, namun seluruhnya kini telah kembali ke rumah masing-masing. Banjir juga merendam 402 rumah serta berdampak pada kelompok rentan yang terdiri atas 34 lansia, 34 balita, dan 19 bayi.

Adapun kebutuhan mendesak masyarakat meliputi matras, selimut, sembako, makanan siap saji, perlengkapan bayi, serta kebutuhan anak-anak.

Di sektor pertanian, sekitar 230 hektare lahan sawah terdampak banjir, terdiri atas 80 hektare di Desa Lebagu, 70 hektare di Desa Masari, 50 hektare di Desa Dolago Padang, dan 30 hektare di Desa Balinggi Jati. Selain itu, banjir juga berdampak pada 52 hektare lahan perkebunan dan 30 hektare area perikanan.

Erwin mengatakan perhatian Pemda Parimo saat ini juga tertuju pada pemulihan fasilitas umum, terutama jembatan yang menjadi akses utama masyarakat.

Di Desa Lobu Mandiri, dua unit jembatan mengalami kerusakan berat dan menjadi prioritas penanganan darurat, agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal sambil menunggu pembangunan permanen.

Sementara di Desa Dolago Padang, Pemda Parimo bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu melakukan penanganan luapan sungai menggunakan alat berat.

Saat ini, satu unit alat berat telah bekerja di lokasi dan BWS berencana menambah dua unit alat berat untuk mempercepat penanganan.

“Kami juga mempertimbangkan menambah satu alat berat lagi karena dampaknya cukup luas. Dari data yang ada, sekitar 148,1 hektare lahan di dua desa terdampak banjir. Ini harus segera ditangani, apalagi kondisi cuaca masih berpotensi hujan,” ujarnya.

Secara keseluruhan, sedikitnya lima unit jembatan mengalami kerusakan akibat banjir, termasuk satu jembatan putus dan satu jembatan ambruk di Desa Lobu Mandiri.

Kerusakan juga terjadi pada oprit jembatan di Desa Parigi Mpu’u dan Kayuboko, jembatan penghubung Desa Tolai dan Tolai Timur, serta jaringan air bersih sepanjang sekitar 225 meter.

Untuk mengurangi risiko banjir susulan, Pemda Parimo melakukan normalisasi sungai dan pemasangan geobag di sejumlah titik rawan. Tahap berikutnya akan dilakukan pemasangan bronjong, guna memperkuat bantaran sungai yang mengalami kerusakan.

“Di beberapa lokasi terdapat tikungan aliran sungai yang menyebabkan air meluap ke area pertanian. Titik-titik seperti itu harus segera ditangani agar air tidak kembali masuk ke sawah masyarakat,” jelas Erwin.

Selain penanganan banjir, Pemda Parimo juga terus melakukan pendataan dan pemulihan dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026 lalu.

Berdasarkan data BPBD Parimo, gempa bemi menyebabkan 96 bangunan rusak dan berdampak pada 96 kepala keluarga atau 323 jiwa.

Kerusakan tersebut, terdiri atas 87 rumah, tiga pagar, empat pura, satu kios, dan satu rumah kos. Berdasarkan tingkat kerusakannya, tercatat 92 bangunan mengalami rusak ringan, tiga rusak sedang, dan satu rusak berat.

Wilayah dengan dampak terbesar meliputi Desa Bambalemo Ranomaisi, Desa Torue, Desa Dolago Padang, dan Desa Boyantongo.

Bencana gempa bumi juga merusak sejumlah fasilitas umum dan sosial, seperti rumah ibadah, kantor pemerintahan, sekolah, jaringan air bersih, drainase, bronjong sungai, serta fasilitas pendukung lainnya.

Bupati Erwin mengatakan, seluruh data kerusakan akibat gempa bumi telah dikirim ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai dasar proses verifikasi dan pengajuan bantuan rehabilitasi serta rekonstruksi.

“Pemulihan pascagempa terus kami koordinasikan dengan pemerintah provinsi dan instansi terkait. Semua data kerusakan telah disampaikan untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku,” katanya.

Untuk mendukung percepatan penanganan, Pemda Parimo juga telah mengajukan penetapan status tanggap darurat kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Status tersebut, menjadi dasar penyaluran bantuan tambahan maupun penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT).

“Penggunaan BTT harus didukung dengan status tanggap darurat. Karena itu proses administrasinya sedang kami selesaikan agar anggaran bisa segera dimanfaatkan untuk penanganan bencana,” ujarnya.

Di sektor pertanian, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPHP) Parimo akan menyalurkan 87 ton benih padi dengan masa panen sekitar 80 hari.

Bantuan tersebut, diproyeksikan mampu mendukung penanaman hingga 3.000 hektare lahan sebagai bagian dari percepatan pemulihan ekonomi masyarakat.

Secara keseluruhan, dampak banjir dan gempa bumi di Kabupaten Parimo menyebabkan sedikitnya 1.226 jiwa terdampak, terdiri atas 903 jiwa akibat banjir dan 323 jiwa akibat gempa.

BPBD Parimo bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, terus mempercepat upaya pemulihan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.

Baca berita lainnya di Google News

Komentar