PALU, theopini.id – Wakil Gubernur (Wagub) dr. Reny A. Lamadjido, meresmikan Deklarasi Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se-Sulawesi Tengah, yang dirangkaikan dengan kunjungan kerja Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI di Aula Baru Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Senin, 22 Juni 2026.
Konsorsium ini, menjadi wadah kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim serta risiko kebencanaan di Sulawesi Tengah.
Dalam sambutannya, Wagub Reny menekankan, pengalaman panjang Sulawesi Tengah menghadapi berbagai bencana harus menjadi pelajaran kolektif untuk memperkuat sistem mitigasi berbasis ilmu pengetahuan.
“Sulawesi Tengah adalah daerah yang sangat sering mengalami gempa bumi. Saya sendiri merasakan langsung bencana besar tahun 2018, terlibat dalam proses evakuasi korban, menangani pasien, dan melihat bagaimana dahsyatnya gempa, tsunami, hingga likuefaksi,” ujar Reny.
Ia menegaskan, penanganan bencana tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus berbasis kolaborasi lintas sektor, termasuk perguruan tinggi sebagai pusat riset dan inovasi.
“Penanggulangan bencana harus dilakukan secara komprehensif dan berbasis ilmu pengetahuan agar risiko dapat diminimalkan dan kapasitas masyarakat semakin kuat,” tegasnya.
Wagub Reny juga mengaitkan peran kampus dengan program prioritas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, melalui sembilan program unggulan BERANI, khususnya BERANI Cerdas yang telah menjangkau sekitar 23 ribu penerima beasiswa sepanjang 2025, dengan sekitar 40 persen di antaranya mahasiswa.
Ia mendorong agar dunia akademik lebih aktif menghasilkan riset yang berangkat dari persoalan nyata di daerah, termasuk isu kebencanaan dan perubahan iklim, sehingga dapat menjadi solusi konkret bagi masyarakat.
Sementara itu, Wakil Menteri (Wamen) Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, menegaskan, perguruan tinggi memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga pusat riset dan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Ia menekankan, pentingnya hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti pada karya ilmiah, tetapi dapat dimanfaatkan dalam pembangunan daerah dan nasional.
Wamen Fauzan juga menyoroti pentingnya kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan era digital, termasuk penguasaan teknologi, kecerdasan buatan, literasi digital, hingga kewirausahaan, agar kampus mampu melahirkan generasi pencipta lapangan kerja.
Melalui konsorsium ini, diharapkan terbentuk ekosistem kolaboratif antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam memperkuat mitigasi bencana serta adaptasi perubahan iklim di Sulawesi Tengah, menuju pembangunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Baca berita lainnya di Google News







Komentar