PALU, theopini.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menyelesaikan rekonstruksi Jembatan Palu IV Ponulele atau dikenal Jembatan Kuning, di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang rusak akibat gempa dan tsunami pada 28 September 2018.
Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, program rekonstruksi Jembatan Palu IV, diinisiasi sebagai upaya untuk memulihkan aksesibilitas dan mobilitas Kota Palu yang terdampak gempa bumi dan tsunami pada 2018.
Baca Juga: Pemulihan Aksebilitas dan Mobilitas, PUPR Rekonstruksi Jembatan Palu IV
“Dengan dibangunnya kembali jembatan ini, diharapkan dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi dan pembangunan wilayah Kota Palu, serta menjadi ikon Kota Palu sehingga dapat menarik wisatawan baik dari Sulawesi Tengah maupun dari luar,” kata Menteri Basuki, dalam keterangan resminya, Rabu, 12 Juni 2024.
Program rekonstruksi Jembatan Palu IV mendapatkan bantuan dari Pemerintah Jepang melalui Japan International Coorporation Agency (JICA), yakni berupa dana hibah senilai 2,026 miliar Yen atau sekitar Rp200 miliar, dilaksanakan kontraktor Jepang Tokyu Construction.
Penandatanganan hibah, antara Dirjen Bina Marga dan JICA, sudah dilaksanakan pada 21 Juni 2019. Kegiatan rekonstruksi, semula direncanakan dimulai pembangunannya pada 2020.
Namun, akibat adanya Pandemi dan penyelesaian pembebasan lahan yang membutuhkan waktu lebih lama, pelaksanaan rekonstruksi Jembatan Palu IV baru dimulai Juli 2022.
Sementara itu, Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR di Sulawesi Tengah, Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, Jembatan Palu IV yang baru akan terkoneksi dengan jalan elevated, yang merupakan bagian dari sistem mitigasi bencana tsunami.
Sehingga diharapkan akan terwujud kawasan Silebeta tangguh bencana. Di mana, pondasi dan ketinggian Jembatan Palu IV didesain dengan mempertimbangkan nilai seismik gempa, dan tsunami berdasarkan peta risiko, dengan bentang total 250 meter.
“Desain Jembatan Palu IV telah mendapatkan persetujuan rekomendasi dari Menteri PUPR pada 5 Maret 2020, setelah mendapatkan rekomendasi dari Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) pada 3 Maret 2020,” kata Arie Setiadi.
Senada, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah, Kementerian PUPR Dadi Muradi mengatakan, rekonstruksi jembatan ini sudah lama dinanti masyarakat Palu.
Sebab, merupakan ikon Kota Palu dan sangat berperan dalam konektivitas yang menghubungkan Kecamatan Palu Timur, dan Palu Barat.
“Progres fisiknya hingga saat ini, sebesar 57,86% dan direncanakan selesai pada Desember 2024. Pekerjaannya, meliputi pembangunan Jembatan Utama sepanjang 250 meter. Sisi barat tanggul, sepanjang 382 meter dan Timur Tanggul sepanjang 408 meter,” ujarnya.
Sedangkan, untuk jalan elevated yang merupakan bagian dari sistem mitigasi bencana tsunami, kata Dadi, dikerjakan dalam dua paket pekerjaan, yakni rehabilitasi ruas jalan dalam Kota Palu.
Baca Juga: Resmikan Taman dan Jembatan di Poso, Berikut Pesan Gubernur Sulteng
Kemudian, rekonstruksi dan A1 penanganan tanggul jalan Rajamoili-Cut Mutia (16,25 km) dan rekonstruksi serta penanganan tanggul Jalan Cumi-cumi (2,4 km).
“Kedua paket tersebut, masih dalam proses konstruksi bersamaan dengan Jembatan Palu IV,” pungkasnya.
















