Menurun, Menkeu: Penerimaan Pajak Capai Rp 1.028 Triliun pada Semester I-2024

JAKARTA, theopini.idMenteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melaporkan, penerimaan perpajakan mencapai Rp 1.028 triliun pada semester I-2024 atau setara 44,5%, dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024.

Penerimaan perpajakan ini, terkontraksi 7% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp 1.105,6 triliun.

Baca Juga: Hingga Akhir April 2024, Penerimaan Pajak Capai 31,38 Persen dari Target APBN

Penurunan ini, terutama dipengaruhi penurumam PPH badan dari sisi profitabilitas perusahaan. Selain itu, PPN juga mengalami tekanan akibat restitusi yang meningkat.

“Dari sisi bruto aktivitas ekonominya masih positif pertumbuhannya. Namun kemudian dilakukan restitusi, sehingga terjadi penerimaan netto pajak kita terlihat mengalami tekanan 11%. Jadi PPH badan dan PPN yang kontribusinya terbesar mengalami tekanan terhadap penerimaan kita,” kata Menkeu, dalam Laporan Realisasi Semester I dan prognosis Semester II Pelaksanaan APBN 2024 di gedung DPR RI, Jakarta, Senin, 8 Juli 2024.

Ia juga melaporkan PPH 21 mengalami kenaikan signifikan, sebesar 28,5% secara bruto dan neto. Hal ini, mencerminkan peningkatan dalam aktivitas serta pendapatan karyawan.

Menkeu menyebut, PPH Orang Pribadi juga mengalami kenaikan sebesar 12%, menunjukkan pertumbuhan dalam penghasilan individu.

Sedangkan PPH Final, mengalami pertumbuhan 13,8% secara neto yang menunjukkan, adanya pemulihan aktivitas dari sisi deposito, konstruksi, sewa tanah/bangunan didorong kenaikan aktivitas transaksi.

“Kemudian, untuk PPN impor masih tumbuh tapi tipis dan PPH 26 juga mengalami pertumbuhan 4,8% untuk neto dan 6,2% untuk bruto. Ini berarti tekanan dari penerimaan pajak bisa diidentifikasi berkaitan dengan komoditas dan restitusi, sedangkan aktivitas ekonomi masih relatif terjaga. Namun kita juga tetap harus waspada,” ungkapnya.

Aktivitas ekonomi di sektor lain, juga masih membukukan pertumbuhan positif, seperti jasa dan asuransi, kontruksi dan real estate, informasi dan komunikasi, serta transportasi dan pergudangan.

Meski untuk sektor pertambangan, masih mengalami kontraksi yang cukup dalam akibat, harga komoditas yang menurun dan restitusi meningkat. Industri pengolahan juga terpengaruh dengan kontraksi 15,4% dalam penerimaan pajaknya.

Di sisi lain, total Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada semester pertama mencapai Rp 288,4 triliun, atau mengalami penurunan 4,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan Rp 302,1 triliun.

Penurunan ini, disebabkan kondisi penerimaan di sektor migas yang mengalami kontraksi 7,6% karena penurunan dalam lifting minyak dan gas.

Selain itu, peneriman sektor non-migas terpengaruh penurunan harga batubara, dan nikel yang signifikan.

Secara keseluruhan, semester pertama 2024 menunjukkan tantangan yang signifikan, dalam hal penerimaan pajak dan bukan pajak di Indonesia.

Meskipun, terdapat beberapa peningkatan, sejumlah sektor tetap mengalami penurunan yang perlu diwaspadai.

Baca Juga: Bupati Amirudin Evaluasi Progres Penerimaan PAD Sektor Pajak Daerah

“Kami berharap dalam suasana yang sangat tidak pasti, tentu pelaksanaan seluruh program kementerian/lembaga dan pemerintah daerah masih bisa dieksekusi, untuk mendorong serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan melindungi masyarakat agar tetap meningkat kemakmurannya,” tukas Menkeu.

banner 1280x250