Gubernur Gorontalo Lirik Limbah Medis di Sulut Sebagai Sumber PAD

GORONTALO, theopini.idGubernur Gorontalo, Gusnar Ismail melirik limbah medis di Sulawesi Utara (Sulut) sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Limbah B3 dan non B3 ini, akan diolah di Provinsi Gorotalo menggunakan incinerator, bantuan hibah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Baca Juga: DPD Desak Pemerintah Kembangkan Pengelolaan Limbah di Indonesia

“Dengan Gubernur Sulut, kami sudah membangun komitmen untuk memanfaatkan apa yang disebut dengan incinerator. Kita ini ada alat pemusnah limbah B3 dan Pak Yulius berkomitmen seluruh Limbah B3 dari rumah sakit Sulut dibakar habis di Gorontalo,” ungkap Gubernur Gusnar saat pelantikan pengurus Dekranasda di Kota Gorontalo, Sabtu, 26 April 2025.

BACA JUGA:  Pemda Parimo Akan Gelar Budaya Nusantara di Mepanga

Ia mengatakan, limbah medis memiliki harga mahal, pemusnahannya Rp 4.500 per kilogram dan dapat menjadi peluang peningkatan PAD.

Di sisi lain, incinerator Gorontalo yang diresmikan pada 2024 di Desa Talumelito, Kecamatan Telaga Biru, diklaim terbesar se-Sulawesi.

“Ini merupakan sumber PAD. Bapak ibu sekalian, satu kilogram untuk memusnahkan itu harganya kurang lebih Rp4.500. Bisa bayangkan Sulawesi Utara dengan berbagai macam rumah sakit, mungkin sekali datang bisa satu kontainer,” imbuhnya.

Ia menyebut, merujuk dari data jumlah fasilitas layanan kesehatan di Provinsi Gorontalo sebanyak 147 unit, terdiri dari rumah sakit 14 unit, puskesmas 96 unit dan klinik 37 unit.

BACA JUGA:  Gusnar Ismail: PAUD Harus Jadi Mitra, Bukan Pengganti Peran Orang Tua

Baca Juga: Limbah Medis Jadi Sorotan, Ini Tanggapan RSUD Anuntaloko Parigi

Limbah B3 yang dihasilkan dari fasilitas kesehatan tersebut, diperkirakan mencapai 2.375 Kg per hari atau 856.000 kg per tahun.

“Kapasitasnya olahannya bisa ditingkatkan dengan menampung dari daerah lain, sekaligus untuk meningkatkan PAD,” pungkasnya.

Komentar