PARIMO, theopini.id – Sejumlah guru dan orang tua siswa di Desa Air Panas, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah mengeluhkan air sungai yang mengalir di badan jalan.
Pasalnya, bila volume air meningkat dan terjadi banjir akibat intersitas hujan tinggi, guru dan siswa akan mengalami kesulitan menuju ke Sekolah.
“Anak saya siswa kelas II di SD Inpres Kayuboko di Dusun I, Desa Air Panas. Kalau ke Sekolah, terpaksa harus pakai sendal. Setelah tiba di Sekolah, baru menggunakan sepatu,” kata orang tua siswa, warga Dusun I Desa Air Panas, Handri, ditemui, Selasa, 14 Juni 2023.
Baca Juga: Begini Kondisi Desa Air Panas Pasca Tambang Emas Ilegal Tak Beroperasi
Kondisi air yang mengalir di badan jalan, kata dia, telah terjadi beberapa bulan pasca tambang emas ilegal di Desa Kayuboko tak lagi beroperasi.
Gundukan pasir, bekas normalisasi Sungai yang dilakukan pihak pengelola tambang ilegal saat masih beroperasi, terus menutup jalur sungai hingga terjadi pendangkalan.
Mengakibatkan air mengalir ke arah dataran paling rendah, melewati badan jalan, perkebunan dan pemukiman warga yang tak jauh dari bantaran sungai.
Menurutnya, persoalan tersebut tak bisa dibiarkan terlalu lama. Sebab material pasir yang menutupi sungai hampir mencapai badan jembatan.
“Belum lagi, rumah dan perkebunan warga di bantaran sungai rusak parah. Begitu juga badan jalan, aspal terus terkikir karena sudah lama dilalui air,” ungkapnya.
Dia berharap, pemerintah daerah segera mengatasi persoalan tersebut, memasang bronjong, dan melakukan normalisasi sungai, agar kondisi di desanya bisa kembali seperti sebelumnya.
“Dulu sungai di Desa Air Panas ini, tingginya enam meter dari sungai ke jembatan. Bahkan, masih bisa mobil dump truck melintas di bawah jembatan,” tukasnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri Satap 2 Parigi Barat, Saida, S.Pd mengatakan, meskipun kondisi saat ini, tak separah sebelumnya. Tetap saja menyulitkan guru menuju ke Sekolah, karena rata-rata berasal dari luar Desa Air Panas.
Bahkan, bila di hulu sungai terjadi hujan, guru kerap khawatir dan bergegas meninggalkan sekolah pasca jam belajar selesai.
Sebab, takut tak bisa menerobos derasnya air sungai menggunakan kendaraan roda dua mereka. Namun, untungnya kondisi itu tidak memadamkan semangat siswa dan guru untuk tetap datang ke sekolah.
“Kalau memang banjir, dan air sungai tidak bisa dilewati, baru diliburkan. Tapi kami selalu berusaha untuk datang ke sekolah,” imbuhnya.
Pantaun media ini, rata-rata siswa yang berjalan kaki menuju ke sekolah, memilih menggunakan sendal jepit agar mudah melintasi aliran sungai.
Baca Juga: Soal PETI Kayuboko, Warga Sampaikan Tuntutannya ke Polda Sulteng
Setelah tiba di sekolah, barulah para siswa menggunakan sepatu untuk mengikuti proses belajar dan mengajar. Kondisi ini, tak hanya dialami SMP Negeri Satap 2 Parigi Barat, dan SD Inpres Kayuboko.
Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), yang berasal dari Air Panas, juga sering kesulitan saat akan menuju ke sekolahnya, yang berada di luar desa.
Selain itu, tak sedikit para petani kebun di Dusun 1 Desa Air Panas, yang menjual hasil perkebunannya terjatuh saat melintas di aliran sungai tersebut.







Comments 1